Cari Blog Ini

Sabtu, 23 Maret 2013

DILEMA SANG KORUPTOR

Tulisan ini bermula dari perenungan panjang, bahkan sampai terbawa kedalam shalat yang tidak khusyuk (Astagfirullah). Ini ceritanya, sewaktu berangkat kerja ke kantor yang berjarak lebih dari 30 km dari rumah, saya nyetir ditemani teman yang kebetulan ikut numpang pada hari itu karena kantor kami yang satu arah. Di jalan teman saya berkomentar ketika kami melihat seorang ibu yang menjual jagung manis dan telor asin, "Alhamdulillah ya, kita masih lebih baik dari mereka, bayangkan berapa hasil yang mereka bawa pulang dengan kerja yang begitu susah".

Saya diam, seakan tidak berkenan dengan pernyataan itu. Apa memang pekerjaan saya yang sebagai seorang PNS lebih baik dari si Ibu penjual jagung manis dan telor asin itu?. Tidak saya pungkiri, saya senang dengan pekerjaan melayani pasien, menyelesaikan masalah mereka, mendapat kepercayaan dari mereka. Saya mensyukuri saya bisa berbahagia dengan pekerjaan ini. Terlepas dari rasa capek, terkadang jenuh tapi saya tetap menemukan kebahagiaan karena saya dapat mengamalkan ilmu saya.

Hanya saja apa memang pekerjaan saya ini adalah yang terbaik untuk saya?. Saya tidak hanya harus melayani pasien dengan sungguh-sungguh, tapi saya juga harus mengikuti aturan administrasi dan birokrasi yang saya rasa terlalu berlebihan dan tidak berpihak kepada kami. Saya terpaksa menjadi seorang koruptor tersembunyi yang Alhamdulillah bisa langsung diberi punishmen berupa pemotongan tunda dan sangsi administrasi yang bla-bla rumitnya. Haduh, Naujubillah...saya dipaksa menjadi koruptor dengan semua peraturan ini. Saya menjadi "Sang Koruptor" waktu. Lalu apa pekerjaan ini memang lebih baik dari pekerjaan penjual jagung manis tadi?.

Bukan hendak mencari pembenaran. Tempat saya bekerja sudah lama kekurangan dokter. Tapi saya tidak mau mengeluhkannya, karena dengan pekerjaan ini saya sudah mendapatkan banyak hal terbaik dalam hidup saya termasuk di panggilnya saya untuk menjadi TKHI, perjalanan dinas dan pengalaman spiritual yang luar biasa bagi saya.Yang saya ingin tahu, apa bisa diadakannya toleransi dengan kondisi kekurangan tenaga dokter ini. Saya coba beberapa bulan untuk disiplin datang tepat jam 8 pagi, bahkan sering saya datang lebih awal. Tapi sungguh, konsekuensi nya adalah saya terpaksa bangun sangat subuh atau meninggalkan anak-anak saya dalam keadaan terkadang tidak sarapan sebelum mereka sekolah. Mengejar sesuatu yang hanya untuk formalitas menandatangani absensi. Kemudian saya berkutat dengan pasien, dinas malam dan juga membuat laporan yang semakin hari semakin banyak saja.

Dan akhirnya saya kemudian merasakan perasaan lelah yang luar biasa. Saya tidak mau kondisi ini membuat saya tidak adil dengan peran saya sebagai seorang isteri dan ibu, sekaligus sebagai abdi negara ini. Dan untuk tetap menjaga stamina, saya mulai memperlonggar disiplin saya. Lebih baik saya datang terlambat, dan urusan saya di rumah dan dikantor bisa saya jalani dengan lebih bahagia dan tenang. Dari pada krasak krusuk dijalan menyalib mobil dan memacunya dengan kecepatan tinggi, dan peningkatan adrenalin yang terus menerus tentu akan menyebabkan tingkat stress saya menjadi tinggi. Ah, sudahlah...memang segitu kemampuan saya. Silahkan potong Tunjangan saya jika itu bisa menghapus dosa saya sebagai sang koruptor waktu.

Saya lebih berprinsip, pekerjaan saya ini lebih banyak urusannya antara saya, pasien saya dan Allah. Kalau ini harus menjadi buruk karena saya harus mengikuti aturan yang saya tidak mampu menjalaninya dengan kondisi kekurangan tenaga dokter seperti sekarang ini, mungkin ini bukan pekerjaan yang membahagiakan saya lagi. Saya seorang dokter, yang di sumpah untuk menjalankan tugas saya sebaik2nya. Karena sasaran tugas kami adalah manusia yang membutuhkan pertolongan dengan ilmu kami, perpanjangan tangan Allah. Walaupun sumpah itu sudah lama kami ucapkan, tapi itu seperti mantra ampuh yang sudah merasuki relung hati, menyelusup jauh ke pembuluh darah yang terkecil sekalipun

Menciptakan perasaan kasih yang tak terlihat antara kami dan pasien kami, menjadikan telinga kami tuli, mata kami buta, perasaan kami bebal atas hujatan yang terkadang sudah berlebihan. Terus bekerja tanpa peduli resiko yang seperti hantu mengintai setiap milimeter kesalahan kami.

Dan fakta yang menyadarkan bahwa saya sering menjadi Sang Koruptor waktu seperti raksasa besar yang terkadang menghilangkan rasa bahagia, melemahkan semangat bahkan menjadi perangsang rasa sakit yang berkepanjangan. Ini bukanlah sesuatu yang idealis, tapi hanyalah keinginan sederhana dari seorang anak manusia untuk tetap menjadi orang baik.

Sekarang bisa terlihat, dari perenungan panjang saya. Manakah yang lebih baik pekerjaan saya sebagai  PNS yang senantiasa bisa kapan saja bisa menjadi seorang koruptor, atau pekerjaan si ibu penjual jagung manis yang bebas menentukan hidupnya menjadi orang baik atau orang buruk?.

4 komentar:

  1. Luar biasa, aku jadi terusik dan talendo puncak kada ku, memang begitulah, menjadi PNS adalah masuk kedalam dilemma tak berkesudahan, ......mari berusaha jadi hamba Allah yang baik sambil mengabdi pada negara dengan ikhlas, berusaha jujur dan bersyukur atas nikmat Allah SWT ini..

    BalasHapus
  2. Dear Valuta Kasih: Sip... Kalau bisa dilakukan dengan sebaiknya sebenarnya itu tugas mulia. Yang sulit adalah karena kita terikat oleh sistem yang sebenarnya masih perlu banyak pembenahan. jadi sebelum sistem ini dibenahi dgn baik, kemungkinan tugas ini jauh dari mulia menurut saya. Maaf kalau ini mengiris hati kita yang PNS ini.

    BalasHapus
  3. Sebenarnya dasar penulisan ini bukanlah di karenakan tidak adanya rasa syukur atas anugerah Allah yang sudah memberikan pekerjaan sbg PNS ini. Tapi hanya suatu bentuk keprihatinan saja, kenapa sepertinya sistem yang dibuat dengan tujuan untuk penegakan disiplin PNS membuat peluang yang besar untuk terjadinya korupsi waktu seperti halnya yang saya alami sekarang ini.

    BalasHapus
  4. Alhamdulillah. adanya kesadaran semacam itu sudah mempunyai nilai tersendiri di sisi Allah, Allah tidak akan memberatkan seseorang melebihi kemampuannya, pekerjaan dokter adalah suatu tugas mulia yang membantu seseorang untuk beribadah kepada Nya karena dia mempunyai kesehatan yang prima, selamat bu dokter

    BalasHapus