Cari Blog Ini

Selasa, 01 Oktober 2013

Do'a adalah Upaya

Jika aku sudah melakukan yang terbaik, tabah dalam kesulitan, mencari cara untuk menjadi lebih mampu, meninggalkan yang tidak berguna, sesungguhnya aku hanya tinggal bersabar.
Akan datang waktu, dimana semuanya akan menjadi lebih mudah dan indah.
Tuhan membaikkan kehidupan Jiwa yang berupaya.
Semoga tak lama lagi.
Aamiin. (kutipan dari Mario Teguh)

Banyak hal dalam hidup, yang membuat aku merasa semakin harus lebih banyak belajar. Apapun aku pelajari, aku kerjakan, bahkan diluar bidang keilmuanku. Satu hal yang terutama, adalah karena aku merasa menjadi orang yang bergembira dan bersyukur dengan itu semua. Aku menemukan banyak hal menarik serta pelajaran hidup dalam suka dukanya.

Capek tentu saja, tapi yang terpikir pada saat itu adalah, jika aku mampu, kenapa aku tidak melakukannya, jika aku tidak mampu, bukankah kewajiban kita adalah memampukan diri utk menjadi lebih baik?. Aku memasuki daerah asing, lonjakan adrenalin itu seperti gelombang ganas yang sewaktu-waktu bisa menenggelamkan. Tapi aku sangat mengimani, bahwa aku tidak sendiri, Allah beserta orang yang berupaya dalam sekecil apapun kebaikan. Modal utamaku hanyalah keyakinan, niat baik, prasangka baik dan keikhlasan dalam berbuat.

Dalam perjalanannya, aku menemukan banyak karakter manusia. Dan dari mereka aku banyak belajar. bahkan dari orang yang paling jahat sekalipun. Alhamdulillah, aku juga banyak berkenalan dengan orang-orang yang baik. Yang berdedikasi tinggi, yang berkomitmen penuh, yang senior dengan begitu banyak jabatan dan pengalaman, bahkan yang junior dengan sepak terjang bisnis yang memukau. Menakjubkan. Diantara mereka bahkan seperti sudah menjadi sahabat bagiku. Mereka mungkin tak akan pernah kutemukan jika aku cuma berkutat dengan pekerjaanku sebelumnya. Aku yakin, aku akan menemukan kehidupan yang lebih menarik diluar sana, jika aku mau memampukan diri untuk apapun yang kuinginkan.

Tak ada yang tak mungkin jika kita mau, manusia makhluk kompleks yang diciptakan untuk menjadi apa yang mereka mau. Itu Anugerah yang sangat disayangkan jika disia-siakan. Aku yakin, dengan berusaha menjadi orang yang baik, membaikkan diri dari waktu ke waktu, berusaha lebih banyak bersabar dalam keadaan sesulit apapun, segera bangkit dalam kesedihan yang merontokkan tulang belulang, bersyukur dalam nikmat yang terkecil sekalipun, maka lah-lah sebaik-baik penolong. Kehidupan ini indah, diperuntukkan bagi kita yang menyakini janji Allah, "Aku tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika mereka tidak merubah nasib mereka".
Janji siapa lagi yang harus kita percayai, jika janji Allah saja masih kita ragukan?.















Sabtu, 23 Maret 2013

DILEMA SANG KORUPTOR

Tulisan ini bermula dari perenungan panjang, bahkan sampai terbawa kedalam shalat yang tidak khusyuk (Astagfirullah). Ini ceritanya, sewaktu berangkat kerja ke kantor yang berjarak lebih dari 30 km dari rumah, saya nyetir ditemani teman yang kebetulan ikut numpang pada hari itu karena kantor kami yang satu arah. Di jalan teman saya berkomentar ketika kami melihat seorang ibu yang menjual jagung manis dan telor asin, "Alhamdulillah ya, kita masih lebih baik dari mereka, bayangkan berapa hasil yang mereka bawa pulang dengan kerja yang begitu susah".

Saya diam, seakan tidak berkenan dengan pernyataan itu. Apa memang pekerjaan saya yang sebagai seorang PNS lebih baik dari si Ibu penjual jagung manis dan telor asin itu?. Tidak saya pungkiri, saya senang dengan pekerjaan melayani pasien, menyelesaikan masalah mereka, mendapat kepercayaan dari mereka. Saya mensyukuri saya bisa berbahagia dengan pekerjaan ini. Terlepas dari rasa capek, terkadang jenuh tapi saya tetap menemukan kebahagiaan karena saya dapat mengamalkan ilmu saya.

Hanya saja apa memang pekerjaan saya ini adalah yang terbaik untuk saya?. Saya tidak hanya harus melayani pasien dengan sungguh-sungguh, tapi saya juga harus mengikuti aturan administrasi dan birokrasi yang saya rasa terlalu berlebihan dan tidak berpihak kepada kami. Saya terpaksa menjadi seorang koruptor tersembunyi yang Alhamdulillah bisa langsung diberi punishmen berupa pemotongan tunda dan sangsi administrasi yang bla-bla rumitnya. Haduh, Naujubillah...saya dipaksa menjadi koruptor dengan semua peraturan ini. Saya menjadi "Sang Koruptor" waktu. Lalu apa pekerjaan ini memang lebih baik dari pekerjaan penjual jagung manis tadi?.

Bukan hendak mencari pembenaran. Tempat saya bekerja sudah lama kekurangan dokter. Tapi saya tidak mau mengeluhkannya, karena dengan pekerjaan ini saya sudah mendapatkan banyak hal terbaik dalam hidup saya termasuk di panggilnya saya untuk menjadi TKHI, perjalanan dinas dan pengalaman spiritual yang luar biasa bagi saya.Yang saya ingin tahu, apa bisa diadakannya toleransi dengan kondisi kekurangan tenaga dokter ini. Saya coba beberapa bulan untuk disiplin datang tepat jam 8 pagi, bahkan sering saya datang lebih awal. Tapi sungguh, konsekuensi nya adalah saya terpaksa bangun sangat subuh atau meninggalkan anak-anak saya dalam keadaan terkadang tidak sarapan sebelum mereka sekolah. Mengejar sesuatu yang hanya untuk formalitas menandatangani absensi. Kemudian saya berkutat dengan pasien, dinas malam dan juga membuat laporan yang semakin hari semakin banyak saja.

Dan akhirnya saya kemudian merasakan perasaan lelah yang luar biasa. Saya tidak mau kondisi ini membuat saya tidak adil dengan peran saya sebagai seorang isteri dan ibu, sekaligus sebagai abdi negara ini. Dan untuk tetap menjaga stamina, saya mulai memperlonggar disiplin saya. Lebih baik saya datang terlambat, dan urusan saya di rumah dan dikantor bisa saya jalani dengan lebih bahagia dan tenang. Dari pada krasak krusuk dijalan menyalib mobil dan memacunya dengan kecepatan tinggi, dan peningkatan adrenalin yang terus menerus tentu akan menyebabkan tingkat stress saya menjadi tinggi. Ah, sudahlah...memang segitu kemampuan saya. Silahkan potong Tunjangan saya jika itu bisa menghapus dosa saya sebagai sang koruptor waktu.

Saya lebih berprinsip, pekerjaan saya ini lebih banyak urusannya antara saya, pasien saya dan Allah. Kalau ini harus menjadi buruk karena saya harus mengikuti aturan yang saya tidak mampu menjalaninya dengan kondisi kekurangan tenaga dokter seperti sekarang ini, mungkin ini bukan pekerjaan yang membahagiakan saya lagi. Saya seorang dokter, yang di sumpah untuk menjalankan tugas saya sebaik2nya. Karena sasaran tugas kami adalah manusia yang membutuhkan pertolongan dengan ilmu kami, perpanjangan tangan Allah. Walaupun sumpah itu sudah lama kami ucapkan, tapi itu seperti mantra ampuh yang sudah merasuki relung hati, menyelusup jauh ke pembuluh darah yang terkecil sekalipun

Menciptakan perasaan kasih yang tak terlihat antara kami dan pasien kami, menjadikan telinga kami tuli, mata kami buta, perasaan kami bebal atas hujatan yang terkadang sudah berlebihan. Terus bekerja tanpa peduli resiko yang seperti hantu mengintai setiap milimeter kesalahan kami.

Dan fakta yang menyadarkan bahwa saya sering menjadi Sang Koruptor waktu seperti raksasa besar yang terkadang menghilangkan rasa bahagia, melemahkan semangat bahkan menjadi perangsang rasa sakit yang berkepanjangan. Ini bukanlah sesuatu yang idealis, tapi hanyalah keinginan sederhana dari seorang anak manusia untuk tetap menjadi orang baik.

Sekarang bisa terlihat, dari perenungan panjang saya. Manakah yang lebih baik pekerjaan saya sebagai  PNS yang senantiasa bisa kapan saja bisa menjadi seorang koruptor, atau pekerjaan si ibu penjual jagung manis yang bebas menentukan hidupnya menjadi orang baik atau orang buruk?.

Senin, 11 Maret 2013

Tetap, Jadi yang terbaik....!!!!

Udah lama gak nulis, udah jarang baca2 lagi. Gak mau menyalahkan kondisi dan aktivitas2 ku. Karena itu adalah pilihan, dan sebagai org berakal aku mesti konsekuen dgn itu.
Seharusnya, sesibuk apapun, menulis dan membaca tidak perlu sampai terabaikan sedemikian parahnya.

Sadar akan hal itu, akupun mulai mencoba menulis lagi, walau dengan gairah tidak seperti yang dulu. Sebelumnya ini adalah seperti hobby yang memabukkan, betah berjam-jam didepan laptop. Sensasi yang kurasakan sekarang adalah seperti banyak hal yang lebih penting yang harus ku segerakan utk diselesaikan.
Terkadang seperti orang bodoh aku ingin bertanya, wajarkah jika aku begini?. Menjadi orang bijak itu susah sebenarnya, walaupun terlalu sederhana sesungguhnya. Jadi seperti tidak ingin dianggap tidak bijaksana, akupun kemudian memilih diam daripada bertanya, karena tidak enak membuat orang bingung dengan pertanyaanku itu
.
Aku bersyukur punya beberapa macam kesibukan, dengan tidak mengurangi fungsiku sebagai seorang ibu dan isteri. Aku melakukan segala hal, dan terus terang aku menikmatinya. Aku memanfaatkan tubuh ini yang terasa semakin kuat dan sehat saat aktivitasku semakin padat. Terkadang ada saat-saat jenuh datang, melemahkan semangat. Tapi itu sering hanya berlangsung singkat. Apalagi jika ada target tertentu yang ingin aku capai. Aku merasakan dukungan dari keluargalah yang menyebabkan aku mampu menikmati semua ini.
Dan teman2 se ide yang menjadikan apapun yang aku kerjakan lebih ringan dan menyenangkan. Mereka punya andil yang tidak sedikit dalam menghidupkan semangatku.

Lalu kalau boleh bertanya, tidak apa2kah jika aku seperti ini?. Apakah aku salah kalau aku punya banyak kegiatan?. Untuk diketahui, kegiatanku lebih banyak aku lakukan dengan memanfaatkan kecanggihan tekhnologi, sesekali kalau memang diperlukan hadir, aku akan berusaha hadir. Karena aku menyadari bahwa tempatku sesungguhnya adalah dekat dengan keluarga dan anak-anakku. aku juga bukan tipe orang yang senang berlama-lama diluar rumah. Tempat kembali yang menyenangkan adalah tetap rumahku. Berada disekitar keluarga dan anak-anakku. Ah, pertanyaan macam apa itu?.

Rutinitas yang selalu kulakukan adalah bekerja di RS tempat aku mengabdi pada Nusa dan Bangsa (sebobrok apapun bangsaku ini). Dan kegiatan tambahan lainlah yang membuat aku merasa jauh lebih berarti. Bagi kebanyakan ibu2 yang bekerja diluar rumah, mungkin cukup dengan bekerja pagi hari, lalu pulang sore hari, berkumpul dengan keluarga setelah itu. Lalu kenapa aku tidak cukup puas hanya dengan itu?. Sekali lagi aku bertanya karena aku tetap ingin menjadi bijak. Aku sudah memilih tidak membuka praktek sore lagi, karena akan menambah rutinitasku lagi, Akan membuat aku semakin sering kehilangan waktu dengan keluarga dan anak-anakku. Aku merasa dengan mengamalkan ilmuku pada pagi hari sampai siang setiap harinya. Mungkin itu akan cukup untuk menjawab pertanyaan Malaikat di akhirat nanti, "Ilmumu, engkau kemanakan selama di dunia?".

Anak-anakku mulai dewasa, dan mereka sudah mulai mengerti dengan pekerjaan dan aktivitasku. Bahkan mereka sekarang mulai menghargai dan bangga dengan ibu sepertiku. Mereka mendukung apapun yang aku lakukan, dan itu seperti penawar jerih yang sangat ampuh buatku. Aku selalu bertanya, apakah jalan yang aku pilih adalah sesuatu yang baik atau malah sebaliknya. Karena aku menyadari, perempuan itu tempatnya di rumah. Tapi kenapa aku sedih jika sampai harus meninggalkan kegiatan-kegiatan yang membuatku merasa berarti itu?. Kenapa aku lebih bersemangat dengan bermacam aktivitas yang mampu aku kerjakan sekaligus?.

Pertanyaan bodoh lagi. Tapi ya sudahlah, aku hanya berusaha menjadi sebaik-baiknya manusia. Aku hanya bisa berharap, jalan apapun yang aku pilih adalah atas kehendak dan ridho-Nya. Karena meski terkadang merasa lelah selalu berusaha menjadi bijak, aku merasa berkewajiban untuk hidup ini, selalu melakukan yang terbaik yang mampu aku lakukan. Dan aku senang bisa menulis lagi.

Rabu, 14 Desember 2011

a candle light dinner

butuh gak ya...sebuah candle light dinner?
apa semua pasangan membutuhkannya?
buatku pribadi sepertinya belum butuh untuk saat ini...
Tanpa bermaksud meremehkan sebuah candle light dinner, aku rasa tidak semua pasangan membutuhkannya.
Pernah suatu kali aku ingin mencoba ritual ini dgn suami. alhasil, nafsu makan kami menghilang krn terbayang wajah anak2 di rumah. tak peduli mereka ditinggalkan dengan org kepercayaan dengan bermacam kegiatan yg menyenangkan, tetap saja kami merasakan separuh jiwa kami tertinggal di rumah.
Mungkin aku seorang ibu yang lebay, tapi biarlah tetap begitu. Inilah duniaku sekarang...statusku adalah seorang wanita lengkap dgn suami dan anak-anakku yang berada disekitar jiwaku.
Seperti sepiring gado-gado, yang takkan bernama gado-gado jika tak ada sayuran, tahu, kentang, kerupuk dan saos kacangnya. Itulah diriku sekarang.
Aku masih merasakan romantisnya percakapanku dengan suami di rumah, atau dimana saja kami berada, tanpa perlu merasa terganggu dengan interupsi dari anak-anak. Mereka bukan penghalang kami untuk mendapatkan indahnya cinta. Mereka adalah penyubur cinta kami.
Senangnya aku menikmati setiap peranku dalam hidup ini. Aku adalah anak dari orangtuaku, adik dari kakakku, kakak dari adikku, bagian dari keluarga besarku, bagian dari keluarga suamiku.
Aku seorang individual yang sudah dilengkapi dengan berbagai macam status oleh-Nya. Dan aku menyayangi pemberian-Nya itu. Berusaha merawat dan menjaganya, jika kelak suatu saat diminta-Nya lagi, aku bisa mengembalikannya dengan rupa yang lebih mengkilap dan cemerlang.
Dan kembali ke sebuah candlelight dinner, biarlah aku menjadikan ritual itu sebagai sebuah ritual untuk aku, suami dan anak-anakku. Karena, sungguh mati....aku tak bisa mengesampingkan mereka yang pernah 9 bulan mendiami rahimku dan yang pernah merasakan irama jantung kami yang berdetak bersamaan.
Aku tidak pernah merasa harus mempunyai waktu untuk diriku sendiri, karena aku tidak keberatan mereka hadir dihadapanku kapanpun mereka ingin. Aku tidak merasa mereka adalah sebuah gangguan dalam hidupku kini. Lalu kenapa aku harus berfikir, ini saatnya mencari waktu untuk bersenang-senang sendiri.
Seperti ketika aku harus ke kantor atau acara-acara resmi yang harus kuhadiri, merekapun tidak pernah protes dengan kegiatanku, bahkan jika aku ijin ke salonpun mereka dengan senang hati membiarkanku pergi..."untuk kecantikan dan kesehatan mama", kata mereka. Dan semua itu sudah cukup membuatku merasa jauh dari mereka. Dan aku tak akan menambah jam lagi untuk berada jauh dari mereka selain waktu-waktu yang memang kami tidak bisa melakukannya bersama-sama. Seperti pekerjaanku, waktu sekolah dan mengaji mereka.
Dan terfikir olehku, kenapa aku tak tahan lama-lama jauh dari mereka, karena aku sekarang bukanlah seorang 'NELVI GUSWITA' tapi aku adalah seorang 'NELVI GUSWITA KOMPLIT SPESIAL'...hehe, dan aku bangga dengan pemikiran itu.
Jika aku memang lebay, Allah pasti mengerti kenapa aku segitu lebay-nya, karena Dia-lah yang meletakkan rasa cinta yang begitu dalam kehatiku. Dan semoga rasa cinta itu menjadi kekuatan dahsyat bagiku, untuk dapat membawa anak-anakku menjadi khalifah-Nya dibumi ini...Amin.
So, buat ibu-ibu yang lebay sepertiku, welcome candle light dinner....mom, dad and kids...:)

Kamis, 14 Juli 2011

Anugerah terindah ini...semoga lah akan menjadi Anugerah terindah untuk selamanya...

Anakku, Anugerah terindah dari-Nya, sahabat-sahabat belia-ku, penghiburku, pengobat jerihku, penambah semangatku...sungguh, merekalah segalanya dalam hidupku saat ini.
Betapa menyenangkannya dihadirkan mereka dalam hidupku ini. Kelucuan mereka dimasa balita mereka dan kerepotan menyenangkan yg mereka timbulkan padaku, perlahan berganti dengan keakraban penuh pengertian dari mereka. Perlahan mereka tumbuh dengan hal-hal baru dalam diri mereka, membuatku semakin menikmati keberadaan mereka. Membuatku tersenyum lebih lebar dan seakan mereka dihadirkan untuk lebih menceriakan kehidupanku.

Aku lebih bisa menikmati setiap menit berada dekat dengan mereka. Mendengarkan cerita mereka  yang terdengar seakan mereka sudah bisa memahami begitu banyak hikmah dalam hidup ini, menjadikan mereka lebih bijaksana dibanding usia mereka yang masih sangat muda. Melihat bagaimana mereka menyerap begitu banyak nasihat dan hikmah yang aku tularkan kepada mereka. Aku sungguh kagum dengan kehebatan janji Sang Pencipta...Tak ada satupun kebaikan yang sia-sia di Mata-Nya sekecil apapun, akan ada hasil sebagai reward dari-Nya.

Aku ajarkan hal-hal sederhana yang bisa mereka cerna. Aku ajarkan mereka kejujuran, dan bersedia menerima konsekuensinya...terkadang pahit, tapi Allah-lah yang akan merubahnya menjadi manis untuk mereka. Aku ajarkan mereka mencintai Allah, diri mereka sendiri, orangtua, saudara, teman, binatang, tumbuhan...bahkan kuyakinkan mereka, bahwa Allah menciptakan mereka untuk menjadi Khalifah-Nya yang akan mensejahterakan bumi-Nya ini.

Aku beri mereka pemahaman tentang Cinta orangtua kepada anaknya...Cinta yang diberikan Allah yang menyebabkan orangtua mampu mengorbankan bahkan nyawanya sendiri untuk anaknya. Cinta yang terkadang membuat si anak merasa tidak nyaman dengan peraturan yang diberikan kepada mereka.
Dan sering jujur aku mengakui, bahwa sebagai orangtua, kami bukanlah manusia super yang tidak mempunyai kekurangan. Dan aku membolehkan mereka mengoreksi kesalahanku dengan cara terbaik. Aku mengajak mereka saling menasihati, agar dari hari kehari kami bisa menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya.
Sering aku minta pendapat mereka, apa yang mereka lakukan agar mereka bisa menyelamatkan diri dan keluarganya dari apa neraka dan membawa kami kedalam Sorga-Nya.

Kumanfaatkan setiap kesempatan bersama mereka untuk berdiskusi tentang banyak hal dalam hidup. Dan kujadikan arena diskusi menjadi salah satu acara favorit kami. Tempat kami berkumpul, bercanda dan tempat kuselipkan nasihat-nasihat agar mereka tidak pernah bosan mendengar petuahku.
Banyak hal yang belum kulakukan sebagai orangtua, dan untuk itu aku minta Allah yang menolongku. Kulakukan yang bisa kulakukan, dan kuserahkan kepada-Nya apa yang tidak bisa kulakukan untuk mereka.
Kuakui aku bukan orangtua yang hebat...tapi aku tidak pernah berhenti berusaha untuk menjadi orangtua yang hebat, agar mampu mengantarkan mereka menjadi orang-orang yang hebat...dunia akhirat.

Aku jadikan kecupan, belaian lembut dan dekapan hangatku sebagai tindakan yang akan terpatri dalam hati mereka sampai mereka dewasa nanti, bahwa betapa aku mencintai mereka. Kuminta ijin dari mereka, bahwa aku tak akan pernah berhenti melakukannya sekalipun mereka sudah dewasa nanti. Karena itulah alat sederhana dan paling menyenangkan yang selalu bisa kulakukan sesering yang mereka ingin dapatkan dariku.

Dan sekarang, mereka tumbuh, menjadi sahabat-sahabatku. Mengerti akan keadaanku, menghiburku, tidak mau membiarkanku bersedih dan merasa bahwa merekalah yang harus selalu melindungiku. Usia mereka masih sangat muda, tapi aku merasakan betapa inginnya mereka membuatku senang. Aku merasa menjadi orang paling bersinar dengan pujian dan sanjungan mereka. Menjadikanku merasa menjadi ibu tercantik didunia....hahahaha, karena Itulah yang sering mereka ucapkan padaku, dari waktu kewaktu.

Aku mampu mencintai anak-anak lain seperti anakku sendiri karena terinspirasi dari cinta mereka kepadaku. Bahkan anak laki-lakiku, tak sungkan memperlihatkan cintanya kepadaku. Mengatakan betapa dia sangat menyayangi aku. Dan kehadiranku selalu membuatnya nyaman. Dan anak-anak perempuanku sering berkolaborasi merencanakan hal-hal yang akan membuatku senang. Mereka lucu dan menyenangkan. Mereka selalu membuatku bangga.

Aku seorang ibu, seperti ibu yang lain. Aku berusaha menjadi ibu yang terbaik bagi mereka. Dan aku sangat berharap akan bantuan-Nya dalam membesarkan buah hatiku. Aku ingin Dia melihat usahaku sekecil apapun untuk kebaikan anak-anakku. Aku ingin Dia melihat keinginanku dalam menjaga dan membesar mereka dengan cara terbaik. Amanah-Nya ini...anak-anakku, dan memberi bantuan sebesar-besarnya dalam mensukseskan misiku ini...Amin.

Bantu aku ya Rabbi...dengan segala keterbatasan dan kekuranganku, tapi aku yakin, Engkau takkan pernah membiarkanku sendiri. Karena Engkau Maha Mencintai...

Senin, 04 Juli 2011

Do'a seseorang diujung hidupnya...

Rabbi, sungguh tak ingin aku mendapatkan ujian seperti ini, tapi lebih tak ingin lagi aku mengeluhkannya.
Aku tidak hanya ingin menjadi orang yang bersabar dengan ujianmu, tapi juga sangat ingin mensyukuri apapun yg Engkau takdirkan untukku.
Bukan rasa sakit ini yang aku pikirkan, tapi ketidakmampuanku melakukan tanggung jawabku sebagai seorang manusia lah yang kadang menggelisahkan. Ketika keterbatasan ini menyadarkanku, bahwa tidak banyak lagi yang bisa kulakukan sendiri, tetapi berusaha menerima dengan ikhlas semua ini yang terkadang sulit kulakukan.

Rabbi, tak terkira besarnya hikmah yang kurasa dibalik semua ini...
Ketika kusadari, betapa nikmatnya hidup terasa saat kesehatan itu kau berikan dimasa laluku, yang terkadang sering kulalaikan...bahkan kulupakan...
Ketika aku dapat merasakan ,perasaan yang dialami saudara-saudaraku yang juga sedang merasakan hal seperti ini. Mereka yang sakit dan setiap saat dapat merenggut nyawa mereka...memisahkan mereka dari orang-orang terkasih.

Rabbi, kumohon dengarkan curhatku ini, dengan tidak bermaksud menyesali takdir-Mu sedikitpun...
Aku tahu, aku takkan pernah siap untuk menemui-Mu. Betapa rendahnya diri ini, dengan amalan yang sangat sedikit dan dengan banyaknya dosa yang takkan sanggup kupikul. Tapi sampai detik ini hanya Ridho-Mu yang kuharapkan dan tak pernah pupus asa ini akan Ampunan dan kasih Sayang-Mu.
Rabbi, bila saat itu tiba, jika Engkau akan memanggilku...betapa pilunya hati ini mengingat wajah-wajah terkasih...belahan jiwa yang selalu setia dan sabar mendampingi, dan yang terberat adalah anak-anakku.
Aku masih berhutang tanggung jawab kepada mereka, membesarkan mereka dengan cinta, agar mereka dapat memahami makna cinta itu yang sebenarnya. Cinta dari-Mu...
Mendidik mereka dengan sebaik-baiknya, agar mampu menghadapi hidup ini dengan jiwa yang kokoh.
Melindungi mereka agar mereka mampu melihat kehidupan ini dengan cara yang terbaik.
Rabbi, maafkan aku...Sungguh aku tak tega dengan kesedihan mereka ketika mereka kutinggalkan untuk selamanya. Disaat mereka belum siap dan masih sangat membutuhkan kasih sayangku.
Aku tak mampu membayangkan bahwa ada saat-saat dimana mereka teramat merindukanku, tapi tak mampu menemukan aku dimana-mana.
Aku tak kuasa membayangkan, ketika mereka butuh pelukanku, mereka tahu takkan dapat lagi merasakannya untuk selamanya.

Rabbi, aku tahu semua ini diluar kuasaku...tak sedikitpun ada daya upayaku untuk memperbaiki semua ini..
Oleh karena itu, Ya Rabb...
Jika masih mungkin aku diberi umur panjang...berikanlah ya Rabb, umur panjang yang penuh berkah..
mendampingi hidup mereka menjalani Jalan-Mu.
Tapi jika Kau berkehendak lain...
Maka, ku mohon dengan semua Cinta-Mu, bantu mereka menjalani hari-hari mereka dengan mudah, beri mereka kekuatan dan ketegaran dalam hidup mereka. Tolong didik mereka dan sayangi mereka sebagaimana Engkau mencintai hamba-hamba terkasih-Mu yang lain.
Jadikan kesuksesan mereka didunia menjadi kesuksesan mereka meraih kehidupan akhirat mereka kelak...Amin.
Rabbi, hanya Engkau yang ingin kujadikan satu-satunya tempatku mengadukan ini...
Karena tak ingin lagi ku mengeluhkan rasa sakit ini kepada orang-orang terkasihku...
Karena mereka tak layak ikut menanggung derita ini....tak ingin lagi ku menyiksa mereka dengan rintihanku...
Karena aku begitu mencintai mereka...
Dan, tolong beri aku kesabaran dan keikhlasan untuk menerima semua ini...
Agar takkan lagi keluar keluhan dari bibir ini, tak ada lagi kerepotan yang aku timbulkan akibat keterbatasan kemampuanku saat ini...
Bantu aku menjalani ini dengan cara terbaik dan sikap terbaik..agar semua ini mampu menjadikanku kekasih-Mu...., Ya...Allah. Amin

Jumat, 03 Juni 2011

Adakah tempat Mulia untuknya dihatimu?.

Perhatikan orangtua kita atau seseorang yang dekat dengan kita dan telah memiliki anak-anak yang sudah dewasa. Lihatlah bagaimana kisah hidupnya yang telah menciptakan begitu dalam kerutan dikulitnya. Amati bagaimana hidup, keluarga dan anak-anaknya telah merubah begitu banyak diri dan penampilan mereka.
Kisah hidup yang mereka tanggung antara bahagia dan frustasi yang berasal dari rasa bersalah yang mungkin saja bukan kesalahannya semata.

Orangtua adalah sebutan dengan begitu kompleksnya tugas yang dibebankan kepada mereka. Suka atau tidak suka, mereka harus menerima amanah yang begitu beratnya. Kelahiran anak-anak mereka adalah sebuah gejolak bathin dengan naik-turunnya yang begitu tajam. Sosok mungil yang dihadirkan dalam kehidupan mereka memberikan kebahagiaan tak terkira, sekaligus menghadirkan keletihan bahkan ketakutan akan hal yang tak mereka ketahui terhadap masa depan si buah hati.

Ketika mereka bahagia berada dekat anaknya, pada saat yang samapun mereka khawatir dan takut tidak mampu menjadi orangtua yang baik. Menginginkan yang terbaik untuk anak-anak mereka, tetapi sering merasa gamang terhadap keputusan yang mereka ambil. Menginginkan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya tetapi dengan menanggung beban kesedihan luar biasa karena merasa bersalah melihat keletihan yang tergurat diwajah si anak karena aktivitas mereka.

Terkadang dengan penyesalan dan perasaan tak berdaya terhadap apa yang tidak mereka ketahui tentang hal terbaik yang seharusnya mereka lakukan atau hal buruk apa yang telah mereka lakukan pada anak-anaknya yang tidak mereka sadari. Sering ingin melakukan beberapa hal untuk diri sendiri, tapi tidak benar-benar mampu menghilangkan rasa bersalah hanya karena merasa sengaja menyingkirkan anak-anak dari pikiran mereka. Begitu ingin mampu menyeimbangkan kegiatan mereka dibalik semua kekurangannya, hanya agar si anak tetap merasa dicintai.Berusaha menahan emosi setiap saat, tetapi kadang tak terbendung. Marah kepada si anak, disaat yang sama air mata yang tak terlihat oleh anaknya pun bercucuran mengiris bathin mereka.

Orangtua adalah predikat yang tak ada tandingannya di dunia ini.....
Tak ada bahagia yang sebesar kebahagiaan orangtua melihat kebahagiaan anak-anaknya.
Tak ada frustasi , penyesalan dan kesedihan yang begitu sering menghantam jiwa manusia seperti yang dirasakan orangtua akibat ulah anak-anak mereka.
Tak ada rasa bersalah yang begitu besar terhadap kekurangan mereka sebagai orangtua.
Tak ada tudingan dan intimidasi sesering yang dialami orangtua hanya dikarenakan kelalaian atau ketidaktahuan mereka
Tak ada satupun hal yang dapat menandingi apa yang telah dialami orangtua selama hidup mereka.

Wajar, jika Sang Maha Mulia menempatkan mereka ditempat yang Mulia...
Lalu, apakah si anak juga mampu memberikan ruang yang paling mulia dihatinya, untuk orang tua mereka?