Ffiuuh...!!
Lelah ternyata,
Sebentar mereka bermain bersama, beberapa detik kemudian terdengar jeritan salah satu dari mereka yang disusul lengkingan sumpah serapah yang lainnya. Kemudian tangis berjamaah pun pecah. Selang beberapa detik setelah itu salah satunya menghampiriku, mengadu sambil menangis. Yang lain pun menyusul sambil ikut menangis dan memperlihatkan bukunya yang bercoret pensil warna-warni, berteriak riuh menunjuk pelakunya. Yang tidak ikut bertempur pun datang dengan maksud membela si empunya buku, tapi malah semakin memperkeruh suasana. Karena pembelaan yang terkesan berat sebelah. Dan hal yang membuat jantungku keluarpun terjadi. "Plaakk..!". Tangan si tertuduh menabok kepala si pembela, disusul teriakan marahnya. Dan tanpa minta ijin dariku, kejar mengejarpun terjadi. Aku yang masih shock pun ditinggal sendirian. Kejadiannya begitu cepat namun mampu mengobrak abrik perasaan. Badanku yang sudah letih dari pagi langsung melunglai. Ditinggalkan oleh tulang belulangnya.
Beginikah perasaan Ibuku dulu ketika aku masih kecil?. Kasihan sekali Ibu. Perjuangan tanpa henti seorang ibu, perjuangan menahan perasaan sambil tetap berusaha menjadi ibu yang baik. Pikirankupun melayang bolak-balik antara masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Dan tanpa bermaksud menyesali hidup, akupun menghela nafas. Berusaha menetralisir guncangan perasaan yang baru saja kualami. Dan setelah kekacauan ini berhasil kuatasi, kulanjutkan kegiatan menyiapkan makan malam. Tapi dengan semangat yang sudah tidak setinggi sebelumnya. Aku teringat perkataan Rasulullah kepada putrinya Fatimah, karena melihatnya kelelahan setelah seharian mengurus keluarganya: " Wahai Fatimah, ada dosa yang tidak bisa dihapus dengan shalat dan puasa, tetapi harus dengan kerja dan menanggung beban keluarga". Aku sedikit terhibur karenanya.
Aku adalah seorang ibu yang bekerja diluar rumah. Apapun peranku dalam hidup ini, aku menyukainya. Seseorang yang bekerja untuk mengamalkan ilmunya, seorang isteri dan seorang ibu. Situasi yang berbeda dan berubah-ubah kualami sepanjang hari. Dan keinginan terbesarku selama ini adalah mampu menyeimbangkan antara karir dan rumah tangga. Bukan hal yang mudah memang. Tapi tiap kesulitannya kujalani dengan belajar mencari solusi-solusinya. Mampu menyeimbangkan antara karir dan rumah tangga, aku artikan sebagai ketepatan dalam menempatkan urutan prioritasnya. Dan dengan berusaha untuk tidak melalaikan tugas diluar, dari awal aku sudah memilih, bahwa rumah tangga adalah ladang amal terbesarku. Sepintas keinginanku terlihat sederhana, tapi aku selalu berusaha menjaga komitmen ini dan mensyukurinya.
Bantuan yang teramat besar dari suami dan kegemaran membacaku, menjadi bahan masukan utama untuk mempermudah tugas-tugasku. Belajar untuk menyempurnakan keinginanku. Tidak mudah dan terkadang melelahkan, Tapi ini adalah pilihanku yang sudah diijinkan-Nya untuk kulakukan. Dan disaat kebosanan serta lelah menggoda aku diingatkan dengan perkataan bijak seorang Imam, " Kita tidak akan pernah bisa beristirahat, sebelum kita yakin bahwa telapak kaki kita sudah menginjak pintu surga".
Hmmm..., hidup memang sebuah perjuangan tanpa henti.
Waktu kita kecil sepertinya ga pernah berantem ya..,?, padahal aku sering ngakalin adeknya hehe, prinsip ku wkt itu, uang ku punyaku, uang adik2ku juga punya aku hihihi....
BalasHapuslucu2 anak2 itu ya...
Perjuangan baru akan berakhir jika, mata tak lagi melihat, telinga tak lagi mendengar, hidung tak lagi dpt mencium, kaki tak mampu lagi melangkah, tangan tak mampu lagi memegang, otak tak mampu lagi berfikir, jantung tak mampu lagi berdetak......
BalasHapusValuta kasih: dulu gak pernah berantem krn aku pikir gak penting banget. main lebih asyik kayaknya.
BalasHapusJendela hati: ok banget pak, setuju. thanks ya.