butuh gak ya...sebuah candle light dinner?
apa semua pasangan membutuhkannya?
buatku pribadi sepertinya belum butuh untuk saat ini...
Tanpa bermaksud meremehkan sebuah candle light dinner, aku rasa tidak semua pasangan membutuhkannya.
Pernah suatu kali aku ingin mencoba ritual ini dgn suami. alhasil, nafsu makan kami menghilang krn terbayang wajah anak2 di rumah. tak peduli mereka ditinggalkan dengan org kepercayaan dengan bermacam kegiatan yg menyenangkan, tetap saja kami merasakan separuh jiwa kami tertinggal di rumah.
Mungkin aku seorang ibu yang lebay, tapi biarlah tetap begitu. Inilah duniaku sekarang...statusku adalah seorang wanita lengkap dgn suami dan anak-anakku yang berada disekitar jiwaku.
Seperti sepiring gado-gado, yang takkan bernama gado-gado jika tak ada sayuran, tahu, kentang, kerupuk dan saos kacangnya. Itulah diriku sekarang.
Aku masih merasakan romantisnya percakapanku dengan suami di rumah, atau dimana saja kami berada, tanpa perlu merasa terganggu dengan interupsi dari anak-anak. Mereka bukan penghalang kami untuk mendapatkan indahnya cinta. Mereka adalah penyubur cinta kami.
Senangnya aku menikmati setiap peranku dalam hidup ini. Aku adalah anak dari orangtuaku, adik dari kakakku, kakak dari adikku, bagian dari keluarga besarku, bagian dari keluarga suamiku.
Aku seorang individual yang sudah dilengkapi dengan berbagai macam status oleh-Nya. Dan aku menyayangi pemberian-Nya itu. Berusaha merawat dan menjaganya, jika kelak suatu saat diminta-Nya lagi, aku bisa mengembalikannya dengan rupa yang lebih mengkilap dan cemerlang.
Dan kembali ke sebuah candlelight dinner, biarlah aku menjadikan ritual itu sebagai sebuah ritual untuk aku, suami dan anak-anakku. Karena, sungguh mati....aku tak bisa mengesampingkan mereka yang pernah 9 bulan mendiami rahimku dan yang pernah merasakan irama jantung kami yang berdetak bersamaan.
Aku tidak pernah merasa harus mempunyai waktu untuk diriku sendiri, karena aku tidak keberatan mereka hadir dihadapanku kapanpun mereka ingin. Aku tidak merasa mereka adalah sebuah gangguan dalam hidupku kini. Lalu kenapa aku harus berfikir, ini saatnya mencari waktu untuk bersenang-senang sendiri.
Seperti ketika aku harus ke kantor atau acara-acara resmi yang harus kuhadiri, merekapun tidak pernah protes dengan kegiatanku, bahkan jika aku ijin ke salonpun mereka dengan senang hati membiarkanku pergi..."untuk kecantikan dan kesehatan mama", kata mereka. Dan semua itu sudah cukup membuatku merasa jauh dari mereka. Dan aku tak akan menambah jam lagi untuk berada jauh dari mereka selain waktu-waktu yang memang kami tidak bisa melakukannya bersama-sama. Seperti pekerjaanku, waktu sekolah dan mengaji mereka.
Dan terfikir olehku, kenapa aku tak tahan lama-lama jauh dari mereka, karena aku sekarang bukanlah seorang 'NELVI GUSWITA' tapi aku adalah seorang 'NELVI GUSWITA KOMPLIT SPESIAL'...hehe, dan aku bangga dengan pemikiran itu.
Jika aku memang lebay, Allah pasti mengerti kenapa aku segitu lebay-nya, karena Dia-lah yang meletakkan rasa cinta yang begitu dalam kehatiku. Dan semoga rasa cinta itu menjadi kekuatan dahsyat bagiku, untuk dapat membawa anak-anakku menjadi khalifah-Nya dibumi ini...Amin.
So, buat ibu-ibu yang lebay sepertiku, welcome candle light dinner....mom, dad and kids...:)
Cari Blog Ini
Rabu, 14 Desember 2011
Kamis, 14 Juli 2011
Anugerah terindah ini...semoga lah akan menjadi Anugerah terindah untuk selamanya...
Anakku, Anugerah terindah dari-Nya, sahabat-sahabat belia-ku, penghiburku, pengobat jerihku, penambah semangatku...sungguh, merekalah segalanya dalam hidupku saat ini.
Betapa menyenangkannya dihadirkan mereka dalam hidupku ini. Kelucuan mereka dimasa balita mereka dan kerepotan menyenangkan yg mereka timbulkan padaku, perlahan berganti dengan keakraban penuh pengertian dari mereka. Perlahan mereka tumbuh dengan hal-hal baru dalam diri mereka, membuatku semakin menikmati keberadaan mereka. Membuatku tersenyum lebih lebar dan seakan mereka dihadirkan untuk lebih menceriakan kehidupanku.
Aku lebih bisa menikmati setiap menit berada dekat dengan mereka. Mendengarkan cerita mereka yang terdengar seakan mereka sudah bisa memahami begitu banyak hikmah dalam hidup ini, menjadikan mereka lebih bijaksana dibanding usia mereka yang masih sangat muda. Melihat bagaimana mereka menyerap begitu banyak nasihat dan hikmah yang aku tularkan kepada mereka. Aku sungguh kagum dengan kehebatan janji Sang Pencipta...Tak ada satupun kebaikan yang sia-sia di Mata-Nya sekecil apapun, akan ada hasil sebagai reward dari-Nya.
Aku ajarkan hal-hal sederhana yang bisa mereka cerna. Aku ajarkan mereka kejujuran, dan bersedia menerima konsekuensinya...terkadang pahit, tapi Allah-lah yang akan merubahnya menjadi manis untuk mereka. Aku ajarkan mereka mencintai Allah, diri mereka sendiri, orangtua, saudara, teman, binatang, tumbuhan...bahkan kuyakinkan mereka, bahwa Allah menciptakan mereka untuk menjadi Khalifah-Nya yang akan mensejahterakan bumi-Nya ini.
Aku beri mereka pemahaman tentang Cinta orangtua kepada anaknya...Cinta yang diberikan Allah yang menyebabkan orangtua mampu mengorbankan bahkan nyawanya sendiri untuk anaknya. Cinta yang terkadang membuat si anak merasa tidak nyaman dengan peraturan yang diberikan kepada mereka.
Dan sering jujur aku mengakui, bahwa sebagai orangtua, kami bukanlah manusia super yang tidak mempunyai kekurangan. Dan aku membolehkan mereka mengoreksi kesalahanku dengan cara terbaik. Aku mengajak mereka saling menasihati, agar dari hari kehari kami bisa menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya.
Sering aku minta pendapat mereka, apa yang mereka lakukan agar mereka bisa menyelamatkan diri dan keluarganya dari apa neraka dan membawa kami kedalam Sorga-Nya.
Kumanfaatkan setiap kesempatan bersama mereka untuk berdiskusi tentang banyak hal dalam hidup. Dan kujadikan arena diskusi menjadi salah satu acara favorit kami. Tempat kami berkumpul, bercanda dan tempat kuselipkan nasihat-nasihat agar mereka tidak pernah bosan mendengar petuahku.
Banyak hal yang belum kulakukan sebagai orangtua, dan untuk itu aku minta Allah yang menolongku. Kulakukan yang bisa kulakukan, dan kuserahkan kepada-Nya apa yang tidak bisa kulakukan untuk mereka.
Kuakui aku bukan orangtua yang hebat...tapi aku tidak pernah berhenti berusaha untuk menjadi orangtua yang hebat, agar mampu mengantarkan mereka menjadi orang-orang yang hebat...dunia akhirat.
Aku jadikan kecupan, belaian lembut dan dekapan hangatku sebagai tindakan yang akan terpatri dalam hati mereka sampai mereka dewasa nanti, bahwa betapa aku mencintai mereka. Kuminta ijin dari mereka, bahwa aku tak akan pernah berhenti melakukannya sekalipun mereka sudah dewasa nanti. Karena itulah alat sederhana dan paling menyenangkan yang selalu bisa kulakukan sesering yang mereka ingin dapatkan dariku.
Dan sekarang, mereka tumbuh, menjadi sahabat-sahabatku. Mengerti akan keadaanku, menghiburku, tidak mau membiarkanku bersedih dan merasa bahwa merekalah yang harus selalu melindungiku. Usia mereka masih sangat muda, tapi aku merasakan betapa inginnya mereka membuatku senang. Aku merasa menjadi orang paling bersinar dengan pujian dan sanjungan mereka. Menjadikanku merasa menjadi ibu tercantik didunia....hahahaha, karena Itulah yang sering mereka ucapkan padaku, dari waktu kewaktu.
Aku mampu mencintai anak-anak lain seperti anakku sendiri karena terinspirasi dari cinta mereka kepadaku. Bahkan anak laki-lakiku, tak sungkan memperlihatkan cintanya kepadaku. Mengatakan betapa dia sangat menyayangi aku. Dan kehadiranku selalu membuatnya nyaman. Dan anak-anak perempuanku sering berkolaborasi merencanakan hal-hal yang akan membuatku senang. Mereka lucu dan menyenangkan. Mereka selalu membuatku bangga.
Aku seorang ibu, seperti ibu yang lain. Aku berusaha menjadi ibu yang terbaik bagi mereka. Dan aku sangat berharap akan bantuan-Nya dalam membesarkan buah hatiku. Aku ingin Dia melihat usahaku sekecil apapun untuk kebaikan anak-anakku. Aku ingin Dia melihat keinginanku dalam menjaga dan membesar mereka dengan cara terbaik. Amanah-Nya ini...anak-anakku, dan memberi bantuan sebesar-besarnya dalam mensukseskan misiku ini...Amin.
Bantu aku ya Rabbi...dengan segala keterbatasan dan kekuranganku, tapi aku yakin, Engkau takkan pernah membiarkanku sendiri. Karena Engkau Maha Mencintai...
Betapa menyenangkannya dihadirkan mereka dalam hidupku ini. Kelucuan mereka dimasa balita mereka dan kerepotan menyenangkan yg mereka timbulkan padaku, perlahan berganti dengan keakraban penuh pengertian dari mereka. Perlahan mereka tumbuh dengan hal-hal baru dalam diri mereka, membuatku semakin menikmati keberadaan mereka. Membuatku tersenyum lebih lebar dan seakan mereka dihadirkan untuk lebih menceriakan kehidupanku.
Aku lebih bisa menikmati setiap menit berada dekat dengan mereka. Mendengarkan cerita mereka yang terdengar seakan mereka sudah bisa memahami begitu banyak hikmah dalam hidup ini, menjadikan mereka lebih bijaksana dibanding usia mereka yang masih sangat muda. Melihat bagaimana mereka menyerap begitu banyak nasihat dan hikmah yang aku tularkan kepada mereka. Aku sungguh kagum dengan kehebatan janji Sang Pencipta...Tak ada satupun kebaikan yang sia-sia di Mata-Nya sekecil apapun, akan ada hasil sebagai reward dari-Nya.
Aku ajarkan hal-hal sederhana yang bisa mereka cerna. Aku ajarkan mereka kejujuran, dan bersedia menerima konsekuensinya...terkadang pahit, tapi Allah-lah yang akan merubahnya menjadi manis untuk mereka. Aku ajarkan mereka mencintai Allah, diri mereka sendiri, orangtua, saudara, teman, binatang, tumbuhan...bahkan kuyakinkan mereka, bahwa Allah menciptakan mereka untuk menjadi Khalifah-Nya yang akan mensejahterakan bumi-Nya ini.
Aku beri mereka pemahaman tentang Cinta orangtua kepada anaknya...Cinta yang diberikan Allah yang menyebabkan orangtua mampu mengorbankan bahkan nyawanya sendiri untuk anaknya. Cinta yang terkadang membuat si anak merasa tidak nyaman dengan peraturan yang diberikan kepada mereka.
Dan sering jujur aku mengakui, bahwa sebagai orangtua, kami bukanlah manusia super yang tidak mempunyai kekurangan. Dan aku membolehkan mereka mengoreksi kesalahanku dengan cara terbaik. Aku mengajak mereka saling menasihati, agar dari hari kehari kami bisa menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya.
Sering aku minta pendapat mereka, apa yang mereka lakukan agar mereka bisa menyelamatkan diri dan keluarganya dari apa neraka dan membawa kami kedalam Sorga-Nya.
Kumanfaatkan setiap kesempatan bersama mereka untuk berdiskusi tentang banyak hal dalam hidup. Dan kujadikan arena diskusi menjadi salah satu acara favorit kami. Tempat kami berkumpul, bercanda dan tempat kuselipkan nasihat-nasihat agar mereka tidak pernah bosan mendengar petuahku.
Banyak hal yang belum kulakukan sebagai orangtua, dan untuk itu aku minta Allah yang menolongku. Kulakukan yang bisa kulakukan, dan kuserahkan kepada-Nya apa yang tidak bisa kulakukan untuk mereka.
Kuakui aku bukan orangtua yang hebat...tapi aku tidak pernah berhenti berusaha untuk menjadi orangtua yang hebat, agar mampu mengantarkan mereka menjadi orang-orang yang hebat...dunia akhirat.
Aku jadikan kecupan, belaian lembut dan dekapan hangatku sebagai tindakan yang akan terpatri dalam hati mereka sampai mereka dewasa nanti, bahwa betapa aku mencintai mereka. Kuminta ijin dari mereka, bahwa aku tak akan pernah berhenti melakukannya sekalipun mereka sudah dewasa nanti. Karena itulah alat sederhana dan paling menyenangkan yang selalu bisa kulakukan sesering yang mereka ingin dapatkan dariku.
Dan sekarang, mereka tumbuh, menjadi sahabat-sahabatku. Mengerti akan keadaanku, menghiburku, tidak mau membiarkanku bersedih dan merasa bahwa merekalah yang harus selalu melindungiku. Usia mereka masih sangat muda, tapi aku merasakan betapa inginnya mereka membuatku senang. Aku merasa menjadi orang paling bersinar dengan pujian dan sanjungan mereka. Menjadikanku merasa menjadi ibu tercantik didunia....hahahaha, karena Itulah yang sering mereka ucapkan padaku, dari waktu kewaktu.
Aku mampu mencintai anak-anak lain seperti anakku sendiri karena terinspirasi dari cinta mereka kepadaku. Bahkan anak laki-lakiku, tak sungkan memperlihatkan cintanya kepadaku. Mengatakan betapa dia sangat menyayangi aku. Dan kehadiranku selalu membuatnya nyaman. Dan anak-anak perempuanku sering berkolaborasi merencanakan hal-hal yang akan membuatku senang. Mereka lucu dan menyenangkan. Mereka selalu membuatku bangga.
Aku seorang ibu, seperti ibu yang lain. Aku berusaha menjadi ibu yang terbaik bagi mereka. Dan aku sangat berharap akan bantuan-Nya dalam membesarkan buah hatiku. Aku ingin Dia melihat usahaku sekecil apapun untuk kebaikan anak-anakku. Aku ingin Dia melihat keinginanku dalam menjaga dan membesar mereka dengan cara terbaik. Amanah-Nya ini...anak-anakku, dan memberi bantuan sebesar-besarnya dalam mensukseskan misiku ini...Amin.
Bantu aku ya Rabbi...dengan segala keterbatasan dan kekuranganku, tapi aku yakin, Engkau takkan pernah membiarkanku sendiri. Karena Engkau Maha Mencintai...
Senin, 04 Juli 2011
Do'a seseorang diujung hidupnya...
Rabbi, sungguh tak ingin aku mendapatkan ujian seperti ini, tapi lebih tak ingin lagi aku mengeluhkannya.
Aku tidak hanya ingin menjadi orang yang bersabar dengan ujianmu, tapi juga sangat ingin mensyukuri apapun yg Engkau takdirkan untukku.
Bukan rasa sakit ini yang aku pikirkan, tapi ketidakmampuanku melakukan tanggung jawabku sebagai seorang manusia lah yang kadang menggelisahkan. Ketika keterbatasan ini menyadarkanku, bahwa tidak banyak lagi yang bisa kulakukan sendiri, tetapi berusaha menerima dengan ikhlas semua ini yang terkadang sulit kulakukan.
Rabbi, tak terkira besarnya hikmah yang kurasa dibalik semua ini...
Ketika kusadari, betapa nikmatnya hidup terasa saat kesehatan itu kau berikan dimasa laluku, yang terkadang sering kulalaikan...bahkan kulupakan...
Ketika aku dapat merasakan ,perasaan yang dialami saudara-saudaraku yang juga sedang merasakan hal seperti ini. Mereka yang sakit dan setiap saat dapat merenggut nyawa mereka...memisahkan mereka dari orang-orang terkasih.
Rabbi, kumohon dengarkan curhatku ini, dengan tidak bermaksud menyesali takdir-Mu sedikitpun...
Aku tahu, aku takkan pernah siap untuk menemui-Mu. Betapa rendahnya diri ini, dengan amalan yang sangat sedikit dan dengan banyaknya dosa yang takkan sanggup kupikul. Tapi sampai detik ini hanya Ridho-Mu yang kuharapkan dan tak pernah pupus asa ini akan Ampunan dan kasih Sayang-Mu.
Rabbi, bila saat itu tiba, jika Engkau akan memanggilku...betapa pilunya hati ini mengingat wajah-wajah terkasih...belahan jiwa yang selalu setia dan sabar mendampingi, dan yang terberat adalah anak-anakku.
Aku masih berhutang tanggung jawab kepada mereka, membesarkan mereka dengan cinta, agar mereka dapat memahami makna cinta itu yang sebenarnya. Cinta dari-Mu...
Mendidik mereka dengan sebaik-baiknya, agar mampu menghadapi hidup ini dengan jiwa yang kokoh.
Melindungi mereka agar mereka mampu melihat kehidupan ini dengan cara yang terbaik.
Rabbi, maafkan aku...Sungguh aku tak tega dengan kesedihan mereka ketika mereka kutinggalkan untuk selamanya. Disaat mereka belum siap dan masih sangat membutuhkan kasih sayangku.
Aku tak mampu membayangkan bahwa ada saat-saat dimana mereka teramat merindukanku, tapi tak mampu menemukan aku dimana-mana.
Aku tak kuasa membayangkan, ketika mereka butuh pelukanku, mereka tahu takkan dapat lagi merasakannya untuk selamanya.
Rabbi, aku tahu semua ini diluar kuasaku...tak sedikitpun ada daya upayaku untuk memperbaiki semua ini..
Oleh karena itu, Ya Rabb...
Jika masih mungkin aku diberi umur panjang...berikanlah ya Rabb, umur panjang yang penuh berkah..
mendampingi hidup mereka menjalani Jalan-Mu.
Tapi jika Kau berkehendak lain...
Maka, ku mohon dengan semua Cinta-Mu, bantu mereka menjalani hari-hari mereka dengan mudah, beri mereka kekuatan dan ketegaran dalam hidup mereka. Tolong didik mereka dan sayangi mereka sebagaimana Engkau mencintai hamba-hamba terkasih-Mu yang lain.
Jadikan kesuksesan mereka didunia menjadi kesuksesan mereka meraih kehidupan akhirat mereka kelak...Amin.
Rabbi, hanya Engkau yang ingin kujadikan satu-satunya tempatku mengadukan ini...
Karena tak ingin lagi ku mengeluhkan rasa sakit ini kepada orang-orang terkasihku...
Karena mereka tak layak ikut menanggung derita ini....tak ingin lagi ku menyiksa mereka dengan rintihanku...
Karena aku begitu mencintai mereka...
Dan, tolong beri aku kesabaran dan keikhlasan untuk menerima semua ini...
Agar takkan lagi keluar keluhan dari bibir ini, tak ada lagi kerepotan yang aku timbulkan akibat keterbatasan kemampuanku saat ini...
Bantu aku menjalani ini dengan cara terbaik dan sikap terbaik..agar semua ini mampu menjadikanku kekasih-Mu...., Ya...Allah. Amin
Aku tidak hanya ingin menjadi orang yang bersabar dengan ujianmu, tapi juga sangat ingin mensyukuri apapun yg Engkau takdirkan untukku.
Bukan rasa sakit ini yang aku pikirkan, tapi ketidakmampuanku melakukan tanggung jawabku sebagai seorang manusia lah yang kadang menggelisahkan. Ketika keterbatasan ini menyadarkanku, bahwa tidak banyak lagi yang bisa kulakukan sendiri, tetapi berusaha menerima dengan ikhlas semua ini yang terkadang sulit kulakukan.
Rabbi, tak terkira besarnya hikmah yang kurasa dibalik semua ini...
Ketika kusadari, betapa nikmatnya hidup terasa saat kesehatan itu kau berikan dimasa laluku, yang terkadang sering kulalaikan...bahkan kulupakan...
Ketika aku dapat merasakan ,perasaan yang dialami saudara-saudaraku yang juga sedang merasakan hal seperti ini. Mereka yang sakit dan setiap saat dapat merenggut nyawa mereka...memisahkan mereka dari orang-orang terkasih.
Rabbi, kumohon dengarkan curhatku ini, dengan tidak bermaksud menyesali takdir-Mu sedikitpun...
Aku tahu, aku takkan pernah siap untuk menemui-Mu. Betapa rendahnya diri ini, dengan amalan yang sangat sedikit dan dengan banyaknya dosa yang takkan sanggup kupikul. Tapi sampai detik ini hanya Ridho-Mu yang kuharapkan dan tak pernah pupus asa ini akan Ampunan dan kasih Sayang-Mu.
Rabbi, bila saat itu tiba, jika Engkau akan memanggilku...betapa pilunya hati ini mengingat wajah-wajah terkasih...belahan jiwa yang selalu setia dan sabar mendampingi, dan yang terberat adalah anak-anakku.
Aku masih berhutang tanggung jawab kepada mereka, membesarkan mereka dengan cinta, agar mereka dapat memahami makna cinta itu yang sebenarnya. Cinta dari-Mu...
Mendidik mereka dengan sebaik-baiknya, agar mampu menghadapi hidup ini dengan jiwa yang kokoh.
Melindungi mereka agar mereka mampu melihat kehidupan ini dengan cara yang terbaik.
Rabbi, maafkan aku...Sungguh aku tak tega dengan kesedihan mereka ketika mereka kutinggalkan untuk selamanya. Disaat mereka belum siap dan masih sangat membutuhkan kasih sayangku.
Aku tak mampu membayangkan bahwa ada saat-saat dimana mereka teramat merindukanku, tapi tak mampu menemukan aku dimana-mana.
Aku tak kuasa membayangkan, ketika mereka butuh pelukanku, mereka tahu takkan dapat lagi merasakannya untuk selamanya.
Rabbi, aku tahu semua ini diluar kuasaku...tak sedikitpun ada daya upayaku untuk memperbaiki semua ini..
Oleh karena itu, Ya Rabb...
Jika masih mungkin aku diberi umur panjang...berikanlah ya Rabb, umur panjang yang penuh berkah..
mendampingi hidup mereka menjalani Jalan-Mu.
Tapi jika Kau berkehendak lain...
Maka, ku mohon dengan semua Cinta-Mu, bantu mereka menjalani hari-hari mereka dengan mudah, beri mereka kekuatan dan ketegaran dalam hidup mereka. Tolong didik mereka dan sayangi mereka sebagaimana Engkau mencintai hamba-hamba terkasih-Mu yang lain.
Jadikan kesuksesan mereka didunia menjadi kesuksesan mereka meraih kehidupan akhirat mereka kelak...Amin.
Rabbi, hanya Engkau yang ingin kujadikan satu-satunya tempatku mengadukan ini...
Karena tak ingin lagi ku mengeluhkan rasa sakit ini kepada orang-orang terkasihku...
Karena mereka tak layak ikut menanggung derita ini....tak ingin lagi ku menyiksa mereka dengan rintihanku...
Karena aku begitu mencintai mereka...
Dan, tolong beri aku kesabaran dan keikhlasan untuk menerima semua ini...
Agar takkan lagi keluar keluhan dari bibir ini, tak ada lagi kerepotan yang aku timbulkan akibat keterbatasan kemampuanku saat ini...
Bantu aku menjalani ini dengan cara terbaik dan sikap terbaik..agar semua ini mampu menjadikanku kekasih-Mu...., Ya...Allah. Amin
Jumat, 03 Juni 2011
Adakah tempat Mulia untuknya dihatimu?.
Perhatikan orangtua kita atau seseorang yang dekat dengan kita dan telah memiliki anak-anak yang sudah dewasa. Lihatlah bagaimana kisah hidupnya yang telah menciptakan begitu dalam kerutan dikulitnya. Amati bagaimana hidup, keluarga dan anak-anaknya telah merubah begitu banyak diri dan penampilan mereka.
Kisah hidup yang mereka tanggung antara bahagia dan frustasi yang berasal dari rasa bersalah yang mungkin saja bukan kesalahannya semata.
Orangtua adalah sebutan dengan begitu kompleksnya tugas yang dibebankan kepada mereka. Suka atau tidak suka, mereka harus menerima amanah yang begitu beratnya. Kelahiran anak-anak mereka adalah sebuah gejolak bathin dengan naik-turunnya yang begitu tajam. Sosok mungil yang dihadirkan dalam kehidupan mereka memberikan kebahagiaan tak terkira, sekaligus menghadirkan keletihan bahkan ketakutan akan hal yang tak mereka ketahui terhadap masa depan si buah hati.
Ketika mereka bahagia berada dekat anaknya, pada saat yang samapun mereka khawatir dan takut tidak mampu menjadi orangtua yang baik. Menginginkan yang terbaik untuk anak-anak mereka, tetapi sering merasa gamang terhadap keputusan yang mereka ambil. Menginginkan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya tetapi dengan menanggung beban kesedihan luar biasa karena merasa bersalah melihat keletihan yang tergurat diwajah si anak karena aktivitas mereka.
Terkadang dengan penyesalan dan perasaan tak berdaya terhadap apa yang tidak mereka ketahui tentang hal terbaik yang seharusnya mereka lakukan atau hal buruk apa yang telah mereka lakukan pada anak-anaknya yang tidak mereka sadari. Sering ingin melakukan beberapa hal untuk diri sendiri, tapi tidak benar-benar mampu menghilangkan rasa bersalah hanya karena merasa sengaja menyingkirkan anak-anak dari pikiran mereka. Begitu ingin mampu menyeimbangkan kegiatan mereka dibalik semua kekurangannya, hanya agar si anak tetap merasa dicintai.Berusaha menahan emosi setiap saat, tetapi kadang tak terbendung. Marah kepada si anak, disaat yang sama air mata yang tak terlihat oleh anaknya pun bercucuran mengiris bathin mereka.
Orangtua adalah predikat yang tak ada tandingannya di dunia ini.....
Tak ada bahagia yang sebesar kebahagiaan orangtua melihat kebahagiaan anak-anaknya.
Tak ada frustasi , penyesalan dan kesedihan yang begitu sering menghantam jiwa manusia seperti yang dirasakan orangtua akibat ulah anak-anak mereka.
Tak ada rasa bersalah yang begitu besar terhadap kekurangan mereka sebagai orangtua.
Tak ada tudingan dan intimidasi sesering yang dialami orangtua hanya dikarenakan kelalaian atau ketidaktahuan mereka
Tak ada satupun hal yang dapat menandingi apa yang telah dialami orangtua selama hidup mereka.
Wajar, jika Sang Maha Mulia menempatkan mereka ditempat yang Mulia...
Lalu, apakah si anak juga mampu memberikan ruang yang paling mulia dihatinya, untuk orang tua mereka?
Kisah hidup yang mereka tanggung antara bahagia dan frustasi yang berasal dari rasa bersalah yang mungkin saja bukan kesalahannya semata.
Orangtua adalah sebutan dengan begitu kompleksnya tugas yang dibebankan kepada mereka. Suka atau tidak suka, mereka harus menerima amanah yang begitu beratnya. Kelahiran anak-anak mereka adalah sebuah gejolak bathin dengan naik-turunnya yang begitu tajam. Sosok mungil yang dihadirkan dalam kehidupan mereka memberikan kebahagiaan tak terkira, sekaligus menghadirkan keletihan bahkan ketakutan akan hal yang tak mereka ketahui terhadap masa depan si buah hati.
Ketika mereka bahagia berada dekat anaknya, pada saat yang samapun mereka khawatir dan takut tidak mampu menjadi orangtua yang baik. Menginginkan yang terbaik untuk anak-anak mereka, tetapi sering merasa gamang terhadap keputusan yang mereka ambil. Menginginkan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya tetapi dengan menanggung beban kesedihan luar biasa karena merasa bersalah melihat keletihan yang tergurat diwajah si anak karena aktivitas mereka.
Terkadang dengan penyesalan dan perasaan tak berdaya terhadap apa yang tidak mereka ketahui tentang hal terbaik yang seharusnya mereka lakukan atau hal buruk apa yang telah mereka lakukan pada anak-anaknya yang tidak mereka sadari. Sering ingin melakukan beberapa hal untuk diri sendiri, tapi tidak benar-benar mampu menghilangkan rasa bersalah hanya karena merasa sengaja menyingkirkan anak-anak dari pikiran mereka. Begitu ingin mampu menyeimbangkan kegiatan mereka dibalik semua kekurangannya, hanya agar si anak tetap merasa dicintai.Berusaha menahan emosi setiap saat, tetapi kadang tak terbendung. Marah kepada si anak, disaat yang sama air mata yang tak terlihat oleh anaknya pun bercucuran mengiris bathin mereka.
Orangtua adalah predikat yang tak ada tandingannya di dunia ini.....
Tak ada bahagia yang sebesar kebahagiaan orangtua melihat kebahagiaan anak-anaknya.
Tak ada frustasi , penyesalan dan kesedihan yang begitu sering menghantam jiwa manusia seperti yang dirasakan orangtua akibat ulah anak-anak mereka.
Tak ada rasa bersalah yang begitu besar terhadap kekurangan mereka sebagai orangtua.
Tak ada tudingan dan intimidasi sesering yang dialami orangtua hanya dikarenakan kelalaian atau ketidaktahuan mereka
Tak ada satupun hal yang dapat menandingi apa yang telah dialami orangtua selama hidup mereka.
Wajar, jika Sang Maha Mulia menempatkan mereka ditempat yang Mulia...
Lalu, apakah si anak juga mampu memberikan ruang yang paling mulia dihatinya, untuk orang tua mereka?
Minggu, 15 Mei 2011
Bersemangatlah untuk tidak mengabaikan cinta yang sudah dipermudah.
Anda tidak bisa selalu bersandar kepada rasa cinta dari pasangan Anda. Karena disaat dia memutuskan bahwa Anda lah yang ingin dijadikannya pendamping hidupnya, dia berharap cintanya dan cinta Anda kepadanya akan bisa memperbaiki kekurangan masing-masing. Menerima cinta apa adanya, dan berharap Anda berubah menjadi lebih baik. Sehingga dia akan dipermudah untuk dapat mempertahankan cintanya.
Jika Anda punya kebiasaan buruk yang sudah dikeluhkannya berulangkali, berubahlah untuknya.
Jika Anda punya kelemahan, akuilah dan perbaikilah dengan sungguh-sungguh.
Jika Anda dulu kurang ilmu, belajarlah menjadi lebih bijaksana dari kehidupan.
Lakukan banyak hal agar dia mampu mempertahankan cintanya kepada anda.
Jangan biarkan anda menjadi diri anda yang dulu dengan mempertahankan pemikiran-pemikiran kuno anda.
Tuntutlah diri anda menjadi yang terbaik, sebelum dia mulai menuntut karena bosan hidup dengan anda.
Cinta sejati adalah cinta yang menerima anda apa adanya. Tapi cinta sejati juga bukanlah cinta yang membiarkan rasa kagum pasangannya hilang untuknya, membiarkan kelembutan menjauhi dirinya. Cinta sejati bukanlah cinta yang tidak mau berbuat apa-apa untuk mempertahankan dan menjadikannya lebih baik.
Berusahalah membuatnya bangga dan bersyukur telah menerima cinta anda. Kebosanan timbul bukanlah karena dia benar-benar bosan dengan anda, tapi karena begitu lamanya dia melihat kelemahan dan keburukan anda adalah sebagai suatu hal yang tak akan mau anda rubah lagi. Memaksanya untuk menerima keburukan anda sekian lama dan tidak menyadari bahwa dia juga manusia yang punya batas. Membuatnya selalu merasa bersalah karena ketidakmampuannya bersabar menghadapi ulah anda. Membuatnya sangat kewalahan mengumpulkan remah-remah cinta yang masih tersisa untuk bisa tetap mendamping hidup anda. Menimbulkan rasa frustasi berkepanjangan dan tersembunyi yang tidak bisa diutarakannya kepada anda, untuk menjaga hati anda.
Pasangan anda mencintai anda, menerima anda apa adanya, berusaha selalu setia dan tidak ingin menduakan anda. Tapi anda juga harus mampu melihat, apakah dia sudah mendapatkan apa yang seharusnya diterimanya dari anda. Sudahkah anda melindunginya dari keterpaksaan menerima kelakuan buruk anda yang meresahkannya, sudahkah dia merasakan mudahnya mencintai anda atau malah begitu sulitnya menjadi orang yang mencintai anda, apakah anda menuntutnya bekerja keras menutup mata dan mengabaikan keburukan anda selama ini, dari waktu ke waktu seumur hidupnya?.
Tidakkah anda ingin tahu apa sebenarnya keinginan terbesarnya yang ingin diterimanya sebagai pendamping hidup anda. Adilkah jika anda mengabaikan keinginannya itu sementara dia terus berjuang untuk tetap bisa menerima anda dan kebiasaan buruk anda?. Sadarkah anda bahwa hidup adalah sebuah konsekuensi. Dan bisakah anda menerima konsekuensi dari pengabaian berkepanjangan yang anda lakukan kepadanya?
Hidup sudah menentukan, bahwa jika kita ingin menerima, maka sebelumnya memberilah. Jika ingin cinta yang indah, maka sebelumnya persembahkanlah cinta terindah anda, menjadikan diri sebaik-baik belahan jiwa untuknya.
Bersemangatlah untuk tidak mengabaikan cinta yang sudah dipermudahkan belahan jiwa anda.
(Nelvi Kamaruttamam)
Jika Anda punya kebiasaan buruk yang sudah dikeluhkannya berulangkali, berubahlah untuknya.
Jika Anda punya kelemahan, akuilah dan perbaikilah dengan sungguh-sungguh.
Jika Anda dulu kurang ilmu, belajarlah menjadi lebih bijaksana dari kehidupan.
Lakukan banyak hal agar dia mampu mempertahankan cintanya kepada anda.
Jangan biarkan anda menjadi diri anda yang dulu dengan mempertahankan pemikiran-pemikiran kuno anda.
Tuntutlah diri anda menjadi yang terbaik, sebelum dia mulai menuntut karena bosan hidup dengan anda.
Cinta sejati adalah cinta yang menerima anda apa adanya. Tapi cinta sejati juga bukanlah cinta yang membiarkan rasa kagum pasangannya hilang untuknya, membiarkan kelembutan menjauhi dirinya. Cinta sejati bukanlah cinta yang tidak mau berbuat apa-apa untuk mempertahankan dan menjadikannya lebih baik.
Berusahalah membuatnya bangga dan bersyukur telah menerima cinta anda. Kebosanan timbul bukanlah karena dia benar-benar bosan dengan anda, tapi karena begitu lamanya dia melihat kelemahan dan keburukan anda adalah sebagai suatu hal yang tak akan mau anda rubah lagi. Memaksanya untuk menerima keburukan anda sekian lama dan tidak menyadari bahwa dia juga manusia yang punya batas. Membuatnya selalu merasa bersalah karena ketidakmampuannya bersabar menghadapi ulah anda. Membuatnya sangat kewalahan mengumpulkan remah-remah cinta yang masih tersisa untuk bisa tetap mendamping hidup anda. Menimbulkan rasa frustasi berkepanjangan dan tersembunyi yang tidak bisa diutarakannya kepada anda, untuk menjaga hati anda.
Pasangan anda mencintai anda, menerima anda apa adanya, berusaha selalu setia dan tidak ingin menduakan anda. Tapi anda juga harus mampu melihat, apakah dia sudah mendapatkan apa yang seharusnya diterimanya dari anda. Sudahkah anda melindunginya dari keterpaksaan menerima kelakuan buruk anda yang meresahkannya, sudahkah dia merasakan mudahnya mencintai anda atau malah begitu sulitnya menjadi orang yang mencintai anda, apakah anda menuntutnya bekerja keras menutup mata dan mengabaikan keburukan anda selama ini, dari waktu ke waktu seumur hidupnya?.
Tidakkah anda ingin tahu apa sebenarnya keinginan terbesarnya yang ingin diterimanya sebagai pendamping hidup anda. Adilkah jika anda mengabaikan keinginannya itu sementara dia terus berjuang untuk tetap bisa menerima anda dan kebiasaan buruk anda?. Sadarkah anda bahwa hidup adalah sebuah konsekuensi. Dan bisakah anda menerima konsekuensi dari pengabaian berkepanjangan yang anda lakukan kepadanya?
Hidup sudah menentukan, bahwa jika kita ingin menerima, maka sebelumnya memberilah. Jika ingin cinta yang indah, maka sebelumnya persembahkanlah cinta terindah anda, menjadikan diri sebaik-baik belahan jiwa untuknya.
Bersemangatlah untuk tidak mengabaikan cinta yang sudah dipermudahkan belahan jiwa anda.
(Nelvi Kamaruttamam)
Jumat, 22 April 2011
MEMBIARKAN ANAK-ANAK TETAP ANAK-ANAK
Terus terang, sebelum saya berkeluarga dan memiliki putra-putri, rasa sayang kepada anak-anak hanya sebatas karena melihat tingkah polah mereka yang menarik dan lucu. Tapi saya jarang melihat sisi lain dari kehidupan mereka. Yang saya tahu hanyalah bahwa mereka akan aman dan bahagia jika punya orangtua yang berkecukupan dan berpendidikan tinggi. Tapi setelah saya memiliki anak, saya tertarik untuk lebih jauh memahami berbagai hal tentang mereka. Membaca buku, banyak bertanya dan memperhatikan setiap perkembangan fisik dan jiwa mereka.
Dan dengan memiliki mereka, membawa perubahan yang sangat besar terhadap cara pandang saya kepada anak-anak. Jangankan untuk melihat atau mendengar berbagai berita tentang kekerasan pada anak-anak, yang bisa membuat hati saya menangis berhari-hari lamanya, melihat seorang anak yang pulang sekolah berjalan kaki cukup jauh dibawah teriknya sinar mentari atau melihat anak-anak itu menunggu dengan lelah orangtuanya yang terlambat menjemput, mampu membuat hati terenyuh.
Sungguh, tak pernah saya duga, saya begitu mencintai mereka...anak-anak yang tidak hanya terlahir dari rahim ini, tapi semua anak-anak yang dihadirkan kedunia, dimana mereka seharusnya diberi kemudahan dan kenyamanan dalam menjalani proses pendewasaan mereka. Dibimbing, diasuh dan dicintai oleh mereka yang tidak hanya mencintai tapi juga memiliki cukup ilmu untuk memahami hal terkecil sekalipun tentang mereka.
Saya memang bukan ahlinya, tapi saya menulis ini karena saya hanya ingin berbagi. Dan sumber bacaan yang menjadi isi utama tulisan ini berasal dari buku Steve dan Sharoon Biddulph isterinya. Steve adalah ahli psikologi keluarga dan menetap di NSW North Coast. Saya harap dia senang, bukunya (yang berjudul: Mendidik anak dengan cinta) menjadi salah satu buku favorit saya dan bisa saya bagi untuk semua orang tua yang membaca blog saya ini. Dia mengatakan dalam bukunya, "Anda mencintai anak-anak anda, Anda ingin melakukan yang terbaik bagi mereka, dan Anda bersedia untuk belajar--itu berarti Anda memiliki semua bahan yang diperlukan untuk menjadi orang tua yang baik!,
Saya akan mulai mengutip bagian-bagian dari isi buku Steve ini, dimana saya berharap hal ini bisa membuka mata kita atau mengingatkan kembali tentang berbagai hal mengenai anak-anak kita. Saya akan memberi tanda kutip untuk setiap bagian yang saya ambil dari buku tersebut. Dan jika ada kalimat yang saya anggap terlalu panjang, adakalanya saya perpendek disana-sini. Semoga berkah dan berguna.
"Mungkin selama kurun waktu dua puluh tahun terakhir ini kerugian paling serius dan diam-diam amat berbahaya yang dialami anak-anak disebabkan perlakuan kita yang merenggut masa kanak-kanak mereka. Cara terjadinya bisa bermacam-macam, diantaranya:
1. Media yang menggebu-gebu.
Rasa ngeri, takut, sedih dan sakit menjadi berita yang dipaparkan berbagai media baik kepada anak-anak kecil maupun orang dewasa. Kita menjejali anak-anak kita dengan banyak hal negatif yang tak perlu, yang tak relevan dengan dunia kehidupan mereka, dan sama sekali belum mampu mereka cerna.
2. Cara hidup yang diatur terlalu ketat.
Banyak keluarga yang saya kenal mengharuskan anak-anak mereka melakukan beragam kegiatan, mulai dari olahraga, musik dan bermacam pelajaran tambahan pada setiap sore hari dan akhir pekan. Kalau segala kegiatan "tambahan" tadi digabungkan dengan tekanan karena pekerjaan rumah yang harus dikerjakan, kebanyakan anak akan punya sedikit sekali sisa waktu untuk menjadi seorang anak secara wajar. Kita ini menjadi generasi yang paling keterlaluan dalam menerapkan jadwal yang sedemikian ketatnya. Pemecahan masalah itu bisa dilakukan dengan menerapkan satu aturan sederhana--satu anak, satu kegiatan.
3. Kecemasan yang berlebihan dalam hal persaingan.
Yang ikut memperparah hal nomor dua diatas adalah perasaan bahwa hidup ini adalah perlombaan mati-matian. Dan anak-anak paling mudah tertular dengan kecemasan seperti itu. Maka pendidikan disekolahpun disarati dengan berbagai kegiatan yang sifatnya memacu prestasi murid, bahkan sejak TK. Anak-anak usia 7 tahun berlomba mencapai nilai tertinggi, mencemaskan prestasi mereka, sangat berharap menjadi anggota tim. Sungguh berlebihan.
4. Orangtua yang terlalu sibuk.
Karena terlalu sibuk menumpuk harta benda, kita tinggal punya sedikit sekali sisa waktu dan energi untuk melakukan kontak. Kita jadi mudah tegang, ingin serba cepat, dan tak sanggup menjadi kawan karib bagi anak-anak kita. Dan perasaan bersalahpun semakin besar, dan untuk menguranginya kita malah menumpuk lebih banyak lagi harta, dan semakin terjebak dalam kesibukan yang mencekik untuk membayar semua harta yang kita tumpuk.
5. Dunia yang tak aman.
Dulu, anak leluasa menjelajahi wilayah tempat tinggalnya tanpa kecemasan dari orangtua sampai seandainya si anak nyaris tak terlihat sampai sorepun. Tapi pada masa ini, kita perlu mengawasi mereka secara ketat dari keramaian lalu lintas, orang asing serta tindak kriminal. Hal ini mungkin harus diatasi dengan saling bantu oleh lebih banyak lagi pihak terkait."
"Membesarkan dan mengasuh anak laki-laki, tiba saatnya kita membentuk laki-laki 'jenis baru'.."
"Anak laki-laki mengalami 5x lipat problem belajar, 10x lipat problem tingkah laku disekolah. Pada saat dewasa, anak laki-laki terlibat 4x lipat angka kecelakaan lalin, 9x lipat angka peluang masuk penjara.
Kalau anda punya anak laki-laki, tidaklah cukup membesarkan mereka menjadi anak-anak "normal", sebab bagi laki-laki yang hidup dijaman sekarang, normal seringkali berarti tegang atau gelisah, harus bersaing, dan sulit mengendalikan emosi. Kini saatnya kita mulai membentuk "laki-laki jenis baru".
"Perlakuan dunia terhadap anak laki-laki"
Ada yang istimewa dan berharga dalam diri anak laki-laki, ada perbedaan antara mereka dan saudara perempuannya. Anak laki-laki cenderung mempertontonkan perasaannya, sering kali mereka menunjukkan perasaan sayang yang demikian kuat dan mempunyai dorongan yang kuat untuk melindungi. Menunjukkan dirinya sebagai seorang pahlawan yang melakukan tindakan nyata. Mereka punya sifat yang loyal, mampu menahan diri pada sesuatu yang tak menyenangkan, memiliki rasa keadilan yang kuat. Mereka suka humor, optimis dan senang berada diposisi paling depan.
Setiap kali saya memperhatikan anak-anak laki-laki, lalu menyaksikan betapa seringnya dunia memperlakukan mereka dengan sedemikian remehnya--betapa kualitas diri mereka yang istimewa itu sangat kurang didukung dan ditumbuh kembangkan--semua itu membuat saya amat sedih."
"Anak laki-laki butuh perlindungan"
"Di sebuah SD, sekelompok anak laki-laki kelas tiga, berusia 8 tahun, berjalan perlahan sambil sesekali menyeka air mata mereka, pucat dan terguncang. Ternyata seorang guru laki-laki, selesai mempertontonkan video perang kepada mereka. Tanpa diskusi, tanpa penjelasan, tanpa jeda--90 menit penuh kekejaman. Sering kali anak laki-laki dan laki-laki dewasa dicap tak berperasaan, agresif dan tak peka. Tapi bagaimana mereka menjadi seperti itu kalau bukan sebagai pertahanan diri terhadap segala hal yang kita cekoki kepada mereka?.
Banyak hal yang bisa diperbuat untuk memperlambat arus perampasan dari masa kanak-kanak mereka (juga anak perempuan anda) dengan cara menjauhkan mereka dari tayangan film bahkan film kartun sekalipun yang penuh adegan kekerasan, jangan biarkan mereka tertelan oleh permainan komputer berjam-jam lamanya. Game dengan lorong, tangga, senapan, yang bisa membuat mereka ketagihan dan tidak memberikan pelajaran apapun kecuali jari-jari yang mengejang.
Luangkan banyak waktu bersama mereka, Berikan kegiatan agar mereka lebih aktif, bergaul dengan baik dan melihat keindahan alam. Hargai dan beri pujian bagi kemampuan mereka bersikap baik, kepekaan mereka terhadap perasaan orang lain. Bantu mereka belajar menjalin hubungan dengan temannya, ajari mereka menghormati perempuan, ajari mereka mengerjakan tugas-tugas rumah tangga, Pelihara binatang yang membuat anak anda aktif merawat dan bermain dengannya, maka anda akan melihat rasa cinta yang alamiah muncul pada diri anak laki-laki anda."
( Demikian beberapa kutipan dari buku Steve biddulph yang saya ambil untuk referensi tulisan saya ini).
Membesarkan dan mengasuh anak perempuan, memang merupakan hal yang tidak terlalu banyak berbeda dengan membesarkan dan mengasuh anak laki-laki anda. Lebih diutamakan adalah membangun rasa percaya diri mereka, menjadikan mereka lebih mandiri dan mampu menghargai diri mereka sendiri. Banyak hal yang bisa membuat mereka belajar, bahwa mereka kelak akan menjadi tidak saja apa yang ingin mereka impikan untuk masa depan mereka, tapi mereka juga akan menjadi seorang isteri dan seorang Ibu dengan tugas-tugas mulianya. Mereka harus tahu bahwa betapa berharganya diri mereka sampai ada ungkapan yang mengatakan, jika seorang wanita baik, maka akan baiklah suatu negara. Begitu mulianya kedudukan mereka sampai-sampai nasib suatu bangsa berada ditangan mereka, dengan andil mereka dalam membesarkan dan mendidik anak-anak mereka dengan segala kualitas mereka sebagai wanita dan seorang ibu.
Dan hal terpenting yang tetap harus diperhatikan oleh orangtua adalah pendidikan agama anak-anaknya. Hal yang tak boleh diremehkan sama sekali .Jangan pernah memisahkan agama dengan berbagai kegiatan yang dilakukan anak-anak kita. Tanamkan nilai-nilai Tauhid kedalam dada mereka. Tumbuhkan dan suburkan rasa Cinta terhadap Sang Khaliq. Ajarkan kepada mereka, bahwa sebaik-baik penolong adalah Tuhan mereka, dan bimbing mereka agar mempunyai visi kedepan yang lebih berarti, menjadi orang-orang yang Menang, yaitu orang-orang yang beruntung dunia dan akhiratnya. Semoga mereka mampu menjadi manusia-manusia terbaik dengan akhlak terbaik.
Anak-anak tetaplah seorang anak, biarkan mereka melalui masa kanak-kanak mereka dengan bahagia dan dipenuhi cinta dari orangtua dan lingkungan mereka.(Nelvi Kamaruttamam)
Dan dengan memiliki mereka, membawa perubahan yang sangat besar terhadap cara pandang saya kepada anak-anak. Jangankan untuk melihat atau mendengar berbagai berita tentang kekerasan pada anak-anak, yang bisa membuat hati saya menangis berhari-hari lamanya, melihat seorang anak yang pulang sekolah berjalan kaki cukup jauh dibawah teriknya sinar mentari atau melihat anak-anak itu menunggu dengan lelah orangtuanya yang terlambat menjemput, mampu membuat hati terenyuh.
Sungguh, tak pernah saya duga, saya begitu mencintai mereka...anak-anak yang tidak hanya terlahir dari rahim ini, tapi semua anak-anak yang dihadirkan kedunia, dimana mereka seharusnya diberi kemudahan dan kenyamanan dalam menjalani proses pendewasaan mereka. Dibimbing, diasuh dan dicintai oleh mereka yang tidak hanya mencintai tapi juga memiliki cukup ilmu untuk memahami hal terkecil sekalipun tentang mereka.
Saya memang bukan ahlinya, tapi saya menulis ini karena saya hanya ingin berbagi. Dan sumber bacaan yang menjadi isi utama tulisan ini berasal dari buku Steve dan Sharoon Biddulph isterinya. Steve adalah ahli psikologi keluarga dan menetap di NSW North Coast. Saya harap dia senang, bukunya (yang berjudul: Mendidik anak dengan cinta) menjadi salah satu buku favorit saya dan bisa saya bagi untuk semua orang tua yang membaca blog saya ini. Dia mengatakan dalam bukunya, "Anda mencintai anak-anak anda, Anda ingin melakukan yang terbaik bagi mereka, dan Anda bersedia untuk belajar--itu berarti Anda memiliki semua bahan yang diperlukan untuk menjadi orang tua yang baik!,
Saya akan mulai mengutip bagian-bagian dari isi buku Steve ini, dimana saya berharap hal ini bisa membuka mata kita atau mengingatkan kembali tentang berbagai hal mengenai anak-anak kita. Saya akan memberi tanda kutip untuk setiap bagian yang saya ambil dari buku tersebut. Dan jika ada kalimat yang saya anggap terlalu panjang, adakalanya saya perpendek disana-sini. Semoga berkah dan berguna.
"Mungkin selama kurun waktu dua puluh tahun terakhir ini kerugian paling serius dan diam-diam amat berbahaya yang dialami anak-anak disebabkan perlakuan kita yang merenggut masa kanak-kanak mereka. Cara terjadinya bisa bermacam-macam, diantaranya:
1. Media yang menggebu-gebu.
Rasa ngeri, takut, sedih dan sakit menjadi berita yang dipaparkan berbagai media baik kepada anak-anak kecil maupun orang dewasa. Kita menjejali anak-anak kita dengan banyak hal negatif yang tak perlu, yang tak relevan dengan dunia kehidupan mereka, dan sama sekali belum mampu mereka cerna.
2. Cara hidup yang diatur terlalu ketat.
Banyak keluarga yang saya kenal mengharuskan anak-anak mereka melakukan beragam kegiatan, mulai dari olahraga, musik dan bermacam pelajaran tambahan pada setiap sore hari dan akhir pekan. Kalau segala kegiatan "tambahan" tadi digabungkan dengan tekanan karena pekerjaan rumah yang harus dikerjakan, kebanyakan anak akan punya sedikit sekali sisa waktu untuk menjadi seorang anak secara wajar. Kita ini menjadi generasi yang paling keterlaluan dalam menerapkan jadwal yang sedemikian ketatnya. Pemecahan masalah itu bisa dilakukan dengan menerapkan satu aturan sederhana--satu anak, satu kegiatan.
3. Kecemasan yang berlebihan dalam hal persaingan.
Yang ikut memperparah hal nomor dua diatas adalah perasaan bahwa hidup ini adalah perlombaan mati-matian. Dan anak-anak paling mudah tertular dengan kecemasan seperti itu. Maka pendidikan disekolahpun disarati dengan berbagai kegiatan yang sifatnya memacu prestasi murid, bahkan sejak TK. Anak-anak usia 7 tahun berlomba mencapai nilai tertinggi, mencemaskan prestasi mereka, sangat berharap menjadi anggota tim. Sungguh berlebihan.
4. Orangtua yang terlalu sibuk.
Karena terlalu sibuk menumpuk harta benda, kita tinggal punya sedikit sekali sisa waktu dan energi untuk melakukan kontak. Kita jadi mudah tegang, ingin serba cepat, dan tak sanggup menjadi kawan karib bagi anak-anak kita. Dan perasaan bersalahpun semakin besar, dan untuk menguranginya kita malah menumpuk lebih banyak lagi harta, dan semakin terjebak dalam kesibukan yang mencekik untuk membayar semua harta yang kita tumpuk.
5. Dunia yang tak aman.
Dulu, anak leluasa menjelajahi wilayah tempat tinggalnya tanpa kecemasan dari orangtua sampai seandainya si anak nyaris tak terlihat sampai sorepun. Tapi pada masa ini, kita perlu mengawasi mereka secara ketat dari keramaian lalu lintas, orang asing serta tindak kriminal. Hal ini mungkin harus diatasi dengan saling bantu oleh lebih banyak lagi pihak terkait."
"Membesarkan dan mengasuh anak laki-laki, tiba saatnya kita membentuk laki-laki 'jenis baru'.."
"Anak laki-laki mengalami 5x lipat problem belajar, 10x lipat problem tingkah laku disekolah. Pada saat dewasa, anak laki-laki terlibat 4x lipat angka kecelakaan lalin, 9x lipat angka peluang masuk penjara.
Kalau anda punya anak laki-laki, tidaklah cukup membesarkan mereka menjadi anak-anak "normal", sebab bagi laki-laki yang hidup dijaman sekarang, normal seringkali berarti tegang atau gelisah, harus bersaing, dan sulit mengendalikan emosi. Kini saatnya kita mulai membentuk "laki-laki jenis baru".
"Perlakuan dunia terhadap anak laki-laki"
Ada yang istimewa dan berharga dalam diri anak laki-laki, ada perbedaan antara mereka dan saudara perempuannya. Anak laki-laki cenderung mempertontonkan perasaannya, sering kali mereka menunjukkan perasaan sayang yang demikian kuat dan mempunyai dorongan yang kuat untuk melindungi. Menunjukkan dirinya sebagai seorang pahlawan yang melakukan tindakan nyata. Mereka punya sifat yang loyal, mampu menahan diri pada sesuatu yang tak menyenangkan, memiliki rasa keadilan yang kuat. Mereka suka humor, optimis dan senang berada diposisi paling depan.
Setiap kali saya memperhatikan anak-anak laki-laki, lalu menyaksikan betapa seringnya dunia memperlakukan mereka dengan sedemikian remehnya--betapa kualitas diri mereka yang istimewa itu sangat kurang didukung dan ditumbuh kembangkan--semua itu membuat saya amat sedih."
"Anak laki-laki butuh perlindungan"
"Di sebuah SD, sekelompok anak laki-laki kelas tiga, berusia 8 tahun, berjalan perlahan sambil sesekali menyeka air mata mereka, pucat dan terguncang. Ternyata seorang guru laki-laki, selesai mempertontonkan video perang kepada mereka. Tanpa diskusi, tanpa penjelasan, tanpa jeda--90 menit penuh kekejaman. Sering kali anak laki-laki dan laki-laki dewasa dicap tak berperasaan, agresif dan tak peka. Tapi bagaimana mereka menjadi seperti itu kalau bukan sebagai pertahanan diri terhadap segala hal yang kita cekoki kepada mereka?.
Banyak hal yang bisa diperbuat untuk memperlambat arus perampasan dari masa kanak-kanak mereka (juga anak perempuan anda) dengan cara menjauhkan mereka dari tayangan film bahkan film kartun sekalipun yang penuh adegan kekerasan, jangan biarkan mereka tertelan oleh permainan komputer berjam-jam lamanya. Game dengan lorong, tangga, senapan, yang bisa membuat mereka ketagihan dan tidak memberikan pelajaran apapun kecuali jari-jari yang mengejang.
Luangkan banyak waktu bersama mereka, Berikan kegiatan agar mereka lebih aktif, bergaul dengan baik dan melihat keindahan alam. Hargai dan beri pujian bagi kemampuan mereka bersikap baik, kepekaan mereka terhadap perasaan orang lain. Bantu mereka belajar menjalin hubungan dengan temannya, ajari mereka menghormati perempuan, ajari mereka mengerjakan tugas-tugas rumah tangga, Pelihara binatang yang membuat anak anda aktif merawat dan bermain dengannya, maka anda akan melihat rasa cinta yang alamiah muncul pada diri anak laki-laki anda."
( Demikian beberapa kutipan dari buku Steve biddulph yang saya ambil untuk referensi tulisan saya ini).
Membesarkan dan mengasuh anak perempuan, memang merupakan hal yang tidak terlalu banyak berbeda dengan membesarkan dan mengasuh anak laki-laki anda. Lebih diutamakan adalah membangun rasa percaya diri mereka, menjadikan mereka lebih mandiri dan mampu menghargai diri mereka sendiri. Banyak hal yang bisa membuat mereka belajar, bahwa mereka kelak akan menjadi tidak saja apa yang ingin mereka impikan untuk masa depan mereka, tapi mereka juga akan menjadi seorang isteri dan seorang Ibu dengan tugas-tugas mulianya. Mereka harus tahu bahwa betapa berharganya diri mereka sampai ada ungkapan yang mengatakan, jika seorang wanita baik, maka akan baiklah suatu negara. Begitu mulianya kedudukan mereka sampai-sampai nasib suatu bangsa berada ditangan mereka, dengan andil mereka dalam membesarkan dan mendidik anak-anak mereka dengan segala kualitas mereka sebagai wanita dan seorang ibu.
Dan hal terpenting yang tetap harus diperhatikan oleh orangtua adalah pendidikan agama anak-anaknya. Hal yang tak boleh diremehkan sama sekali .Jangan pernah memisahkan agama dengan berbagai kegiatan yang dilakukan anak-anak kita. Tanamkan nilai-nilai Tauhid kedalam dada mereka. Tumbuhkan dan suburkan rasa Cinta terhadap Sang Khaliq. Ajarkan kepada mereka, bahwa sebaik-baik penolong adalah Tuhan mereka, dan bimbing mereka agar mempunyai visi kedepan yang lebih berarti, menjadi orang-orang yang Menang, yaitu orang-orang yang beruntung dunia dan akhiratnya. Semoga mereka mampu menjadi manusia-manusia terbaik dengan akhlak terbaik.
Anak-anak tetaplah seorang anak, biarkan mereka melalui masa kanak-kanak mereka dengan bahagia dan dipenuhi cinta dari orangtua dan lingkungan mereka.(Nelvi Kamaruttamam)
Langganan:
Komentar (Atom)