Terus terang, sebelum saya berkeluarga dan memiliki putra-putri, rasa sayang kepada anak-anak hanya sebatas karena melihat tingkah polah mereka yang menarik dan lucu. Tapi saya jarang melihat sisi lain dari kehidupan mereka. Yang saya tahu hanyalah bahwa mereka akan aman dan bahagia jika punya orangtua yang berkecukupan dan berpendidikan tinggi. Tapi setelah saya memiliki anak, saya tertarik untuk lebih jauh memahami berbagai hal tentang mereka. Membaca buku, banyak bertanya dan memperhatikan setiap perkembangan fisik dan jiwa mereka.
Dan dengan memiliki mereka, membawa perubahan yang sangat besar terhadap cara pandang saya kepada anak-anak. Jangankan untuk melihat atau mendengar berbagai berita tentang kekerasan pada anak-anak, yang bisa membuat hati saya menangis berhari-hari lamanya, melihat seorang anak yang pulang sekolah berjalan kaki cukup jauh dibawah teriknya sinar mentari atau melihat anak-anak itu menunggu dengan lelah orangtuanya yang terlambat menjemput, mampu membuat hati terenyuh.
Sungguh, tak pernah saya duga, saya begitu mencintai mereka...anak-anak yang tidak hanya terlahir dari rahim ini, tapi semua anak-anak yang dihadirkan kedunia, dimana mereka seharusnya diberi kemudahan dan kenyamanan dalam menjalani proses pendewasaan mereka. Dibimbing, diasuh dan dicintai oleh mereka yang tidak hanya mencintai tapi juga memiliki cukup ilmu untuk memahami hal terkecil sekalipun tentang mereka.
Saya memang bukan ahlinya, tapi saya menulis ini karena saya hanya ingin berbagi. Dan sumber bacaan yang menjadi isi utama tulisan ini berasal dari buku Steve dan Sharoon Biddulph isterinya. Steve adalah ahli psikologi keluarga dan menetap di NSW North Coast. Saya harap dia senang, bukunya (yang berjudul: Mendidik anak dengan cinta) menjadi salah satu buku favorit saya dan bisa saya bagi untuk semua orang tua yang membaca blog saya ini. Dia mengatakan dalam bukunya, "Anda mencintai anak-anak anda, Anda ingin melakukan yang terbaik bagi mereka, dan Anda bersedia untuk belajar--itu berarti Anda memiliki semua bahan yang diperlukan untuk menjadi orang tua yang baik!,
Saya akan mulai mengutip bagian-bagian dari isi buku Steve ini, dimana saya berharap hal ini bisa membuka mata kita atau mengingatkan kembali tentang berbagai hal mengenai anak-anak kita. Saya akan memberi tanda kutip untuk setiap bagian yang saya ambil dari buku tersebut. Dan jika ada kalimat yang saya anggap terlalu panjang, adakalanya saya perpendek disana-sini. Semoga berkah dan berguna.
"Mungkin selama kurun waktu dua puluh tahun terakhir ini kerugian paling serius dan diam-diam amat berbahaya yang dialami anak-anak disebabkan perlakuan kita yang merenggut masa kanak-kanak mereka. Cara terjadinya bisa bermacam-macam, diantaranya:
1. Media yang menggebu-gebu.
Rasa ngeri, takut, sedih dan sakit menjadi berita yang dipaparkan berbagai media baik kepada anak-anak kecil maupun orang dewasa. Kita menjejali anak-anak kita dengan banyak hal negatif yang tak perlu, yang tak relevan dengan dunia kehidupan mereka, dan sama sekali belum mampu mereka cerna.
2. Cara hidup yang diatur terlalu ketat.
Banyak keluarga yang saya kenal mengharuskan anak-anak mereka melakukan beragam kegiatan, mulai dari olahraga, musik dan bermacam pelajaran tambahan pada setiap sore hari dan akhir pekan. Kalau segala kegiatan "tambahan" tadi digabungkan dengan tekanan karena pekerjaan rumah yang harus dikerjakan, kebanyakan anak akan punya sedikit sekali sisa waktu untuk menjadi seorang anak secara wajar. Kita ini menjadi generasi yang paling keterlaluan dalam menerapkan jadwal yang sedemikian ketatnya. Pemecahan masalah itu bisa dilakukan dengan menerapkan satu aturan sederhana--satu anak, satu kegiatan.
3. Kecemasan yang berlebihan dalam hal persaingan.
Yang ikut memperparah hal nomor dua diatas adalah perasaan bahwa hidup ini adalah perlombaan mati-matian. Dan anak-anak paling mudah tertular dengan kecemasan seperti itu. Maka pendidikan disekolahpun disarati dengan berbagai kegiatan yang sifatnya memacu prestasi murid, bahkan sejak TK. Anak-anak usia 7 tahun berlomba mencapai nilai tertinggi, mencemaskan prestasi mereka, sangat berharap menjadi anggota tim. Sungguh berlebihan.
4. Orangtua yang terlalu sibuk.
Karena terlalu sibuk menumpuk harta benda, kita tinggal punya sedikit sekali sisa waktu dan energi untuk melakukan kontak. Kita jadi mudah tegang, ingin serba cepat, dan tak sanggup menjadi kawan karib bagi anak-anak kita. Dan perasaan bersalahpun semakin besar, dan untuk menguranginya kita malah menumpuk lebih banyak lagi harta, dan semakin terjebak dalam kesibukan yang mencekik untuk membayar semua harta yang kita tumpuk.
5. Dunia yang tak aman.
Dulu, anak leluasa menjelajahi wilayah tempat tinggalnya tanpa kecemasan dari orangtua sampai seandainya si anak nyaris tak terlihat sampai sorepun. Tapi pada masa ini, kita perlu mengawasi mereka secara ketat dari keramaian lalu lintas, orang asing serta tindak kriminal. Hal ini mungkin harus diatasi dengan saling bantu oleh lebih banyak lagi pihak terkait."
"Membesarkan dan mengasuh anak laki-laki, tiba saatnya kita membentuk laki-laki 'jenis baru'.."
"Anak laki-laki mengalami 5x lipat problem belajar, 10x lipat problem tingkah laku disekolah. Pada saat dewasa, anak laki-laki terlibat 4x lipat angka kecelakaan lalin, 9x lipat angka peluang masuk penjara.
Kalau anda punya anak laki-laki, tidaklah cukup membesarkan mereka menjadi anak-anak "normal", sebab bagi laki-laki yang hidup dijaman sekarang, normal seringkali berarti tegang atau gelisah, harus bersaing, dan sulit mengendalikan emosi. Kini saatnya kita mulai membentuk "laki-laki jenis baru".
"Perlakuan dunia terhadap anak laki-laki"
Ada yang istimewa dan berharga dalam diri anak laki-laki, ada perbedaan antara mereka dan saudara perempuannya. Anak laki-laki cenderung mempertontonkan perasaannya, sering kali mereka menunjukkan perasaan sayang yang demikian kuat dan mempunyai dorongan yang kuat untuk melindungi. Menunjukkan dirinya sebagai seorang pahlawan yang melakukan tindakan nyata. Mereka punya sifat yang loyal, mampu menahan diri pada sesuatu yang tak menyenangkan, memiliki rasa keadilan yang kuat. Mereka suka humor, optimis dan senang berada diposisi paling depan.
Setiap kali saya memperhatikan anak-anak laki-laki, lalu menyaksikan betapa seringnya dunia memperlakukan mereka dengan sedemikian remehnya--betapa kualitas diri mereka yang istimewa itu sangat kurang didukung dan ditumbuh kembangkan--semua itu membuat saya amat sedih."
"Anak laki-laki butuh perlindungan"
"Di sebuah SD, sekelompok anak laki-laki kelas tiga, berusia 8 tahun, berjalan perlahan sambil sesekali menyeka air mata mereka, pucat dan terguncang. Ternyata seorang guru laki-laki, selesai mempertontonkan video perang kepada mereka. Tanpa diskusi, tanpa penjelasan, tanpa jeda--90 menit penuh kekejaman. Sering kali anak laki-laki dan laki-laki dewasa dicap tak berperasaan, agresif dan tak peka. Tapi bagaimana mereka menjadi seperti itu kalau bukan sebagai pertahanan diri terhadap segala hal yang kita cekoki kepada mereka?.
Banyak hal yang bisa diperbuat untuk memperlambat arus perampasan dari masa kanak-kanak mereka (juga anak perempuan anda) dengan cara menjauhkan mereka dari tayangan film bahkan film kartun sekalipun yang penuh adegan kekerasan, jangan biarkan mereka tertelan oleh permainan komputer berjam-jam lamanya. Game dengan lorong, tangga, senapan, yang bisa membuat mereka ketagihan dan tidak memberikan pelajaran apapun kecuali jari-jari yang mengejang.
Luangkan banyak waktu bersama mereka, Berikan kegiatan agar mereka lebih aktif, bergaul dengan baik dan melihat keindahan alam. Hargai dan beri pujian bagi kemampuan mereka bersikap baik, kepekaan mereka terhadap perasaan orang lain. Bantu mereka belajar menjalin hubungan dengan temannya, ajari mereka menghormati perempuan, ajari mereka mengerjakan tugas-tugas rumah tangga, Pelihara binatang yang membuat anak anda aktif merawat dan bermain dengannya, maka anda akan melihat rasa cinta yang alamiah muncul pada diri anak laki-laki anda."
( Demikian beberapa kutipan dari buku Steve biddulph yang saya ambil untuk referensi tulisan saya ini).
Membesarkan dan mengasuh anak perempuan, memang merupakan hal yang tidak terlalu banyak berbeda dengan membesarkan dan mengasuh anak laki-laki anda. Lebih diutamakan adalah membangun rasa percaya diri mereka, menjadikan mereka lebih mandiri dan mampu menghargai diri mereka sendiri. Banyak hal yang bisa membuat mereka belajar, bahwa mereka kelak akan menjadi tidak saja apa yang ingin mereka impikan untuk masa depan mereka, tapi mereka juga akan menjadi seorang isteri dan seorang Ibu dengan tugas-tugas mulianya. Mereka harus tahu bahwa betapa berharganya diri mereka sampai ada ungkapan yang mengatakan, jika seorang wanita baik, maka akan baiklah suatu negara. Begitu mulianya kedudukan mereka sampai-sampai nasib suatu bangsa berada ditangan mereka, dengan andil mereka dalam membesarkan dan mendidik anak-anak mereka dengan segala kualitas mereka sebagai wanita dan seorang ibu.
Dan hal terpenting yang tetap harus diperhatikan oleh orangtua adalah pendidikan agama anak-anaknya. Hal yang tak boleh diremehkan sama sekali .Jangan pernah memisahkan agama dengan berbagai kegiatan yang dilakukan anak-anak kita. Tanamkan nilai-nilai Tauhid kedalam dada mereka. Tumbuhkan dan suburkan rasa Cinta terhadap Sang Khaliq. Ajarkan kepada mereka, bahwa sebaik-baik penolong adalah Tuhan mereka, dan bimbing mereka agar mempunyai visi kedepan yang lebih berarti, menjadi orang-orang yang Menang, yaitu orang-orang yang beruntung dunia dan akhiratnya. Semoga mereka mampu menjadi manusia-manusia terbaik dengan akhlak terbaik.
Anak-anak tetaplah seorang anak, biarkan mereka melalui masa kanak-kanak mereka dengan bahagia dan dipenuhi cinta dari orangtua dan lingkungan mereka.(Nelvi Kamaruttamam)